20 Steps to Lilac

Terkadang kita melupakan apa yang paling kita inginkan. Membiarkan diri kita terjatuh dalam rutinitas. Terkadang kita melupakan hal-hal kecil yang pernah menjadi berharga. Letak jam pasir yang tidak lagi berada di samping vas bunga, atau toko di seberang rumah yang telah berubah menjadi sebuah dance studio. Dan, ketika kita dikejar waktu, semua itu perlahan-lahan muncul kembali. Satu persatu menguap ke permukaan. Seperti sebuah batu yang kehilangan massa. Mengapung, terombang-ambing dan menunggu kemungkinan ada yang mengambil batu itu.

Itu yang dirasakan Jaehyun.

“Hei, bagaimana kabarmu hari ini?”

“Baik. Sangat baik,” sahut pria dengan pakaian serba biru itu menyahut. Ada nada sarkas dalam nada suaranya, seolah-olah itu masuk akal untuk menjawab ‘aku baik’ saat seseorang menanyakan kabar, padahal jelas ada selang infus yang terhubung ke pergelangan tangannya.

“Jaehyun-ah, kau ingin berjalan-jalan keluar? Sore ini terlihat cerah.”

“Tidak, terima kasih. Aku hanya ingin menikmati cerahnya sore dari balik jendela itu.”

“Berhentilah bersikap seperti itu. Itu tidak akan membantu.”

Hyung…”

“Oke, aku tahu. Selamat menikmati sore dari balik jendela. Aku akan kembali lagi nanti.”

Jaehyun tidak ingin susah-susah menyahut. Ia membiarkan saja kakak laki-lakinya itu menutup pintu dan menghilang menuju kantornya. Nilai plus memiliki kakak laki-laki seorang dokter adalah ia akan mendapatkan kunjungan rutin, dan ia tidak perlu banyak bercerita tentang penyakitnya. Kakaknya itu sudah tahu, sepuluh langkah lebih dahulu.

Pria berusia 20 puluh tahun dengan rambut hitam menutupi dahi dan kulit seputih salju. Itulah Jaehyun. Sejak kecil ia selalu mendapat julukan ‘snow white’ karena kulit putihnya, yang ia dapatkan karena ia jarang keluar rumah. Alasannnya lagi-lagi tentu karena penyakit yang ia derita. Jika dipikir-pikir, Jaehyun merasa jadi tokoh dalam cerita yang sudah sangat pasaran. Terlalu klise dan memalukan, sungguh. Tapi, mau bagaimana lagi. Itu yang ia alami. Dan, itulah mengapa ia tidak pernah mau menyebutkan nama penyakit yang ia derita.

Dengan nafas berat ia berjalan menuju jendela, berhati-hati menggeret penopang selang infus. Dahinya sedikit berkerut melihat selang yang berisi cairan bening itu. Ia berharap ia bisa lepas dari selang-selang itu besok. Seperti yang dijanjikan dokter dan kakaknya. Toh, ia sudah berada dirawat selama seminggu dan ia sudah merasa lebih baik.

Tidak ada yang menarik dari balik kaca rumah sakit. Setiap harinya akan menampilkan pemandangan yang biasa dan sama. Dari jendela itu Jaehyun bisa melihat taman kecil dengan bangku kayu. Ada air mancur kecil yang dikelilingi dengan rumput taman yang dipotong rata. Tiap sore—tepatnya setiap pukul lima, akan ada sepasang suami istri paruh baya duduk di bangku yang berada di bawah pohon. Sang istri akan mendorong kursi roda yang diduduki suaminya dan kemudian mereka akan saling bercakap-cakap. Senyuman yang sangat hangat akan terpantul dari bibir mereka. Menghapus garis-garis keriput dan seakan mereka kembali berusia dua puluh tahun.

Nah, bukankah itu terlihat sangat klise. Hampir sama seperti yang ditulis dalam roman. Atau cerita remaja di salah satu portal terkenal. Itu yang ada dipikiran Jaehyun.

Bosan, Jaehyun memutuskan untuk berjalan keluar kamar dan menuju taman itu. Ini pertama kalinya ia menjadi bagian dari pemandangan klise itu. Tidak ada salahnya, karena mungkin Jaehyun akan membuat pemandangan itu tidak lagi begitu klise dan biasa. Atau, mungkin juga tidak.

Perlu dua ratus langkah hingga Jaehyun berada di bawah sebuah pohon. Melirik sebuah bangku yang kosong, ia memutuskan untuk duduk di sana. Kemudian, mengeluarkan iPod dan memasang earphone di telinga. Lagu-lagu ballad bertema cinta menyapa telinganya. Ia memejamkan mata dan berusaha menikmati alunan lagu itu. Sembari mencoba menebak arti setiap lagu dan apakah mungkin ia bisa merasakan seperti apa yang terkandung dalam lagu-lagu itu.

Oppa.”

Oppa!”

Oppa!!!”

Jaehyun tersentak ketika tangan kecil mencubit lengannya. Ia membuka mata dan seorang gadis kecil berumur sekitar lima tahun sedang memandangainya dengan tampang cemberut. Jaehyun mengangkat kedua alis.

“Apa yang Oppa lakukan?”

“Mendengarkan lagu,” sahutnya singkat. Jaehyun tidak suka berkata-kata.

“Lagu apa?”

“Banyak.”

“Tentang apa?”

“Cinta.”

Gadis kecil itu kembali memasang wajah cemberutnya. Jaehyun kembali hanya mengangkat alis. Ia tidak suka berurusan dengan anak kecil.

“Apakah cinta itu, Oppa? Apakah sejenis permen cokelat? Apakah kau pernah, em.. menemukannya? Membelinya? Seperti apa rasanya?”

“Aku tidak tahu,” sahut Jaehyun sambil mengangkat bahu. Cinta? Itu terdengar asing di telinganya.

“Bagaimana jika kita berdua mencarinya? Aku akan membantumu, Oppa!” nada riang khas anak-anak, begitu polos, dan Jaehyun hanya menanggapinya dengan senyuman canggung.

“Oke.”

Percakapan mereka terhenti karena seorang perawat memanggil anak kecil—yang bernama Minhye—itu dan membawanya kembali ke ruangan. Meninggalkan Jaehyun dengan earphone yang tidak lagi terpasang, dan sebuah pertanyaan ‘apakah itu cinta?’.

Jaehyun suka membaca. Ia menghabiskan banyak waktu dengan minimal satu buku tiap hari. Ia membaca apa saja. Dari jurnal ekonomi milik sang ayah, buku psikologi milik sang ibu, bahkan juga diktat kuliah kakaknya. Terkadang ia bahkan membaca semua kolom iklan di surat kabar. Jaehyun menemukan deretan kata-kata itu sangat menakjubkan. Ia selalu bertanya-tanya darimana asal mula kata-kata. Contohnya, ia bertanya mengapa bintang dalam bahasa Korea adalah byul? Apakah byul itu nama seorang gadis yang bersinar terang seperti bintang?

Setiap kata memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Jaehyun terus membaca lagi. Ketika ia awal masuk Daegu High School, ia menemukan buku-buku sastra yang kemudian menjadi temannya setiap istirahat siang. Jaehyun menemukan deretan hangul itu begitu indah dan setiap artinya begitu berkesan.

Ketika ia berada di tingkat akhir dan mulai sering masuk rumah sakit karena penyakit jantung bawaan sejak lahir, sang kakak akan membawakannya novel yang selalu saja ada bumbu cinta. Terkadang cerita fantasi, atau hanya novel remaja tentang cinta pertama. Dan, hanya dari novel-novel itulah Jaehyun mengenal kata ‘cinta’.

Ia berusia dua puluh tahun, dan ia belum pernah jatuh cinta. Ia belum pernah merasakan cinta. Kakaknya mengatakan, ia telah melewatkan hal paling sederhana dalam masa remajanya. Waktu itu Jaehyun hanya mendengus kesal menanggapi perkataan sang kakak. Namun, kali ini ia kembali memikirkan ulang perkataan itu.

Ada banyak hal yang kita lewatkan atau tidak sengaja kita lupakan. Hal kecil yang sebenarnya sangat kita inginkan, namun kita melupakan itu. Dan, ketika Jaehyun berpikir ulang, untuknya, hal itu adalah cinta.

“Kau boleh pulang hari ini, apa yang akan kau lakukan?”

Jaehyun tidak menjawab. Ia memasukkan beberapa buku ke dalam tas ransel. Setelan biru muda sudah berganti dengan jeans dan kemeja.

Aboeji dan Eomma ingin mengajakmu ke Jeju.”

Hyung, boleh aku meminjam mobilmu? Dan studiomu di Hongdae? Kau tidak menggunakan studio itu lagi, kan?” Jaehyun tidak menjawab, namun justru mengajukan pertanyaan yang lain.

Sang kakak hanya bisa menghela nafas menghadapi sikap adiknya itu, “Oke. Aku akan memberikanmu kunci mobil dan kunci studio. Tapi, apa yang akan kau lakukan?”

“Mencari sesuatu yang terlewatkan,” sahutnya sambil berjalan menuju pintu. Tas ransel di punggung. “Kau bisa mengambil kuncimu dulu. Aku menunggumu di lobi.”

Studio yang dimaksud Jaehyun adalah sebuah apartemen kecil yang terbagi menjadi tiga ruangan. Ruang tamu yang merangkap kamar tidur, dengan ranjang kecil, sebuah meja dan lemari. Dapur kecil dan kamar mandi. Hanya tiga ruangan itu. Kakaknya membeli itu saat ia masih kuliah, hasil manggung dari kafe ke kafe dan intern di sebuah klinik. Studio itu tidak lagi dihuni ketika sang kakak menjadi dokter di rumah sakit Seoul dan tinggal di salah satu asrama dekat rumah sakit. Tempat itu berada di lantai dua di gedung dengan total sepuluh lantai. Di salah satu jalan yang tidak jauh dari stasiun. Jaehyun tidak yakin apakah ia akan menemukan hal ia cari di tempat itu.

Ia meletakkan tas punggung di atas meja dan melempar tubuhnya ke atas ranjang. Sedikit melenguh ketika kemudian punggungnya masih belum terbiasa dengan kasur yang tidak terlalu lembut. Ia mengambil ponsel dan mengirimi orang tuanya pesan bahwa ia akan berada di tempat itu hingga menemukan apa yang dicari. Tentu, ia tidak mengatakan apa yang ia cari adalah cinta. Ibunya bisa-bisa akan memeluknya senang jika mereka bertemu nanti.

Jaehyun kemudian membuka jendela yang berada di sisi dinding di samping ranjang. Hongdae sore itu masih sepi. Ia melihat kafe hanya penuh dengan remaja berseragam sekolah. Dari jendela itu ada tiga bangunan yang menarik perhatiannya. Sebuah coffee shop, toko bunga dan dance studio. Jaehyun menggerutu dalam hati. Kali ini hidupnya benar-benar sepeti cerita roman yang begitu klise.

Ponselnya berdering sekali menandakan pesan masuk—yang ternyata dari sang kakak. Mengingatkannya untuk meminum obat, makan, dan istirahat teratur. Ia menganguk sambil mengetik ‘iya’ dan menekan tombol ‘send’. Ia kemudian memasukkan ponsel ke dalam saku jaket, mengambil dompet, dan keluar dari ruangan bernuansa biru putih itu.

Tidak sampai lima puluh langkah hingga ia berada di depan pintu coffee shop. Aroma kopi menguar seakan menyapa setiap pengunjung. Jaehyun jadi ingat drama Coffee Prince yang ia tonton di rumah sakit, karena dekorasi dalam coffee shop itu agak mirip dengan coffee shop di drama itu.

“Pengujung baru?” seorang barista menyapanya. Jaehyun bertanya bagaimana bisa barista itu menebak. Mungkin dari ekspresi wajahnya.

Jaehyun mengangguk, “Ekspresso. Two shots vanila,” ucapnya kemudian, memesan jenis kopi yang ingin ia minum. Ia tidak yakin apakah ia boleh minum kopi saat ini—mengingat ia baru saja keluar rumah sakit. Jaehyun lupa menanyakan hal itu pada kakaknya.

Meja yang dekat dengan sebuah rak buku menjadi pilihan Jaehyun. Ia duduk di sana dengan segelas kopi hangat di atas meja. Di tangannya sebuah buku bersampul biru terbuka di halaman kedua ratus. Pilihan yang tepat untuk mengunjungi coffee shop itu, dan Jaehyun memasukkan tempat itu ke dalam daftar kafe favoritnya.

Ia tengah tenggelam dalam kata-kata ketika terdengar suara jepretan kamera. Ia mendongak dan sederet gigi putih dari pemilik wajah bulat terlihat. Gadis yang mungkin berumur sepuluh tahun tertawa kecil ke arahnya sambil mengibaskan kertas foto polaroid.

Oppa sangat tampan!” pekiknya riang, dan kemudian berlari meninggalkan Jaehyun yang masih mencerna apa yang baru saja terjadi.

“Dan, ini brownise cokelat gratis untuk Oppa!” ucap gadis kecil itu riang. Meletakkan sepiring kecil kue, lengkap dengan sendok kecil. Kemudian, ia duduk di kursi yang kosong di seberang Jaehyun.

“Eum, terima kasih,” sahut Jaehyun. Canggung. Ia tidak tahu kenapa ia harus berurusan dengan anak kecil lagi.

“Terima kasih atas fotonya, Oppa. Aku akan menaruhnya di sana,” ucapnya masih dengan nada riang. Jari telunjuknya menunjuk ke arah sebuah papan yang penuh dengan foto-foto polaroid.

“Kafe ini milik ayahku. Dan, aku suka memoto mereka yang datang ke sini. Tidak semuanya, hanya orang-orang yang terlihat menarik,” lanjutnya.

“Aku menarik?” tanya Jaehyun. Alisnya terangkat. Kebiasaan lamanya.

“Iya,” sahutnya diiringi anggukan. “Wajah Oppa terlihat tanpa ekspresi, namun sinar mata Oppa menampilkan yang sebaliknya. Ada banyak yang tersembunyi dalam sinar mata Oppa. Tadi aku seperti melihat ‘sedang mencari sesuatu’, dan sekarang aku melihat ‘pandangan penuh tanya’.

Jaehyun ingin tertawa. Bagaimana gadis kecil ini bisa berkata-kata seperti itu. Jelas, ia tadi ‘sedang mencari sesuatu’ karena ini pertama kalinya ia berada di tempat ini. Dan, jelas ia ‘sedang penuh tanya’ karena pernyataan agak mengejutkan dari gadis kecil itu.

“Kau menakjubkan,” ucapnya. Jaehyun menjulukan tangan dan mengacak-acak rambut gadis kecil berkepang kuda itu.

Oppa orang baru di sini?”

“Iya.”

Oppa sedang mencari sesuatu?”

“Mungkin.”

“Hmm…” gadis itu meniru gerak tubuh Jaehyun yang sedang menumpukan wajah di telapak tangan kanan. “Ada banyak hal yang bisa Oppa temukan di sini. Sepuluh langkah dari pintu kafe, ada dance studio. Aku latihan di sana, dan Oppa di studio itu sangat baik. Aku memanggilnya Jongin Oppa. Sepuluh langkah lagi ada toko bunga. Onnie yang berkerja di sana sering membuatkanku mahkota bunga. Lalu ada pet shop, banyak kucing yang lucu di sana. Nah, itu tempat-tempat favoritku. Oppa bisa mencoba ke sana. Mungkin Oppa akan menemukan apa yang Oppa cari.”

Jaehyun hanya bisa tersenyum mendengar penjelasan panjang lebar itu. Ia kemudian meletakkan kembali buku yang tidak selesai ia baca. Memakan brownies dan menghabiskan kopi. Ia membalas lambaian tangan gadis kecil—yang tidak ia tahu namanya siapa—ketika ia keluar dari coffee shop.

Benar kata gadis kecil di coffee shop itu, dua puluh langkah ke arah kiri, dan Jaehyun menemukan sebuah dance studio. Entah karena ia yang melangkah pelan atau karena mungkin gadis itu melangkah panjang alias berlari, jumlah langkah mereka sama. Jaehyun menghitungnya dalam hati.

Dance studio itu terlihat sama dengan studio lainnya yang biasa ia lihat. Hanya saja pada dinding sebelah kiri pintu, di bawah tulisan ‘Jongin’s Studio’ ada sebuah tulisan ‘Find what you’ve forgotten’. Tulisan itu mungkin terlihat biasa, namun bagi Jaehyun, tulisan itu seperti sebuah pengingat. Huruf-huruf itu seperti saling berputar-putar hingga kemudian membentuk ulang kalimat itu lagi. Membuat Jaehyun bertekad ia harus menemukan hal itu.

Jaehyun masih berdiri dengan kedua tangan di saku celana. Mematung di depan tulisan itu ketika seorang pria yang baru keluar dari studio itu tidak sengaja menyenggol bahunya.

Sorry,” pria itu tempak terburu-buru dan Jaehyun memakluminya. Menjawab dengan segaris senyuman.

Jaehyun kemudian berbalik—membelakangi dance studio. Di seberang jalan adalah gedung studio room-nya. Di sebelah kanan gedung ternyata ada sebuah restoran ayam. Ia mengulum senyum sambil dalam hati berteriak senang. Ayam goreng adalah salah satu makanan favoritnya. Dan, Jaehyun jadi berpikir kenapa kakaknya sangat betah tinggal di sana, walau tempat tinggalnya begitu kecil. Suasana di lingkungan itulah jawabannya. Suasana yang hangat, menyambut siapa saja yang datang.

Tidak terlewatkan ada sebuah toko musik tidak jauh dari restoran ayam. Melihat toko musik itu mengingatkan Jaehyun pada kakaknya. Musik adalah salah impian sang kakak. Ia menyangsikan apakah menjadi dokter benar-benar yang kakaknya inginkan. Ia pernah menanyakan itu, dan sang kakak menjawab dengan senyuman dan kalimat ‘Tentu saja, aku ingin menjadi dokter untuk adikku’.

Apakah musik salah satu hal yang terlupakan dalam hidup, Hyung? batin Jaehyun. Mungkin ada hal-hal yang sengaja dilupakan—terlewatkan, bukan karena hal itu tidak berarti, namun karena ada hal lain yang lebih memiliki arti.

Jaehyun menghentikan renungan singkatnya dan melangkah kaki lagi. Sepuluh langkah menuju sebuah toko bunga. Jika ada hal yang menarik dari toko bunga itu, maka hal itu adalah pintu yang terbuat dari kayu bercat putih dengan bunga yang merambat mengelilinginya. Sisi depan toko bunga adalah kaca—yang membuat orang bisa melihat ke dalamnya. Kemudian, melihat dari tinggi pintu yang setinggi 190 cm—membuat Jaehyun berpikir semoga kepalanya tidak terbentur saat melewati pintu itu. Pasti akan ada celah empat sentimeter antara kepalanya dan ujung atas pintu.

Jaehyun hanya berhenti di depan toko bunga tanpa berniat masuk. Mungkin besok ia akan singgah di sana. Ia menyudahi pencariannya sore itu karena ia mendadak merasa sangat lelah.

Pagi pertama di ruangan kecil dengan langit-langit bermotif awan, Jaehyun terbangun dari mimpi tentang sebuah toko bunga di tengah padang rumput. Dan, kemudian aroma roti bakar menyapa indera penciumannya. Membuka mata pelan—Jaehyun melihat kakaknya sedang berada di dapur. Ia kemudian memejamkan mata lagi dan menarik selimut—menutupi tubuhnya. Ia merasa dingin walau matahari dengan sinar hangatnya mulai menerobos tirai jendela.

“Bangunlah, snow white prince.”

Terdengar teriakan lembut kakaknya dari dapur, namun Jaehyun masih malas bergerak. Ia bergumam tidak jelas ketika kakaknya menarik selimut, menarik kedua tangannya dan memaksa Jaehyun untuk duduk. Ia tidak bisa mengelak, apalagi ketika kemudian segelas cokelat hangat disodorkan di depan mulutnya. Jaehyun tidak bisa menolak cokelat hangat.

Senyuman terbentuk di bibir Jaehyun setelah menyesap pelan minuman kesukaannya.

“Bagaimana? Kau suka tempat ini?”

Jaehyun mengangguk.

“Aku masih membersihkan tempat ini setiap minggu. Banyak yang ingin menyewanya, tapi aku tolak.”

Jaehyun mengangkat alis.

“Tempat ini seperti sebuah rahasia kecilku. Bagian diriku yang tersembunyi yang tidak ingin aku bagi dengan orang lain.”

Dahi Jaehyun berkerut—tanda ia sedikit protes.

“Tentu, kecuali untuk adikku tersayang,” lanjut sang kakak sambil mengacak-acak rambut Jaehyun. “Bersihkan badanmu. Aku menyiapkan roti bakar. Makanlah.”

Jaehyun menghitung jumlah langkah dari depan pintu kamarnya hingga depan pintu toko bunga. Enam puluh langkah kaki.

Dengan sweeter berwarna mint dan celana putih, Jaehyun terlihat melebur dengan toko bunga itu. Warna-warna pastel yang membuat pagi itu terasa sangat sejuk. Padahal udara kota Seoul di musim panas, ditambah polusi udara, tentu tidak akan terasa sejuk. Mungkin pot-pot bunga yang ditata di rak di depan toko itu juga yang memberi kontribusi pada suasana sejuk.

Jaehyun berjongkok di depan rak bunga itu. Memperhatikan pot yang berisi heather putih. Ia pernah membaca di salah satu buku bahwa bunga itu memiliki arti harapan yang akan menjadi nyata. Ia tersenyum kecil.

“Selamat pagi!”

Suara riang menyadarkan Jaehyun dari lamunan kecilnya. Ia buru-buru berdiri. Menyapu telapak tangan yang agak berkeringat di celana putih. Wajahnya mendongak dan ia bertemu pandang dengan seorang gadis dengan apron berwarna biru. Senyuman lebar dan mata yang berbinar.

“Ada yang bisa aku bantu?” tanyanya masih dengan nada riang.

Jaehyun menebak-nebak darimana gadis itu mendapat energinya hingga seriang itu. Mungkin dari aroma bunga, tebaknya.

“Eum, aku mencari bunga,” sahut Jaehyun. Canggung. Dan ia meruntuki dirinya karena jelas, apalagi yang dicari di sebuah toko bunga kalau bukan bunga.

“Masuklah, dan kau bisa melihat-lihat.”

Jaehyun masuk melewati pintu yang hampir menyentuh puncak kepalanya.

“Ada yang menarik perhatianmu?” tanya gadis itu. Tiba-tiba sudah berdiri di samping Jaehyun. Pria itu menoleh sekilas. Memandangi sekilas wajah dengan poni menutupi dahi, rambut tergerai sebahu. Dress bermotif polkadot berwarna biru sepanjang lutut. Jaehyun menunduk dan matanya melihat sepasang sepatu mary jane. Ia tersenyum tanpa sadar.

“Itu bunga apa? Lilac?” tanya Jaehyun sambil menunjuk pada bunga dalam pot besar di salah satu sudut toko. Ada bunga kecil berwarna putih.

Gadis penjaga toko bunga, yang Jaehyun beri nama ‘pastel’ itu menjawab dengan anggukan, “Bunga itu yang kau temukan menarik? Sayangnya tidak dijual.”

Jaehyun sedikit kecewa.

“Jika kau begitu menyukainya, kau bisa datang lagi besok. Besok akan ada bunga lilac yang baru,” ujar gadis itu kemudian seakan bisa membaca kekecewaan Jaehyun.

Jaehyun menemukan dirinya di depan pintu toko bunga itu lagi. kali ini dengan dua gelas kopi di tangan. Jantungnya berdetak sedikit cepat dan ia merasa keringat dingin jatuh di keningnya.

“Bukankah itu seperti gejala jatuh cinta yang dituliskan di cerita-cerita cinta?” gumamnya pelan.

Ia masuk ke dalam toko bunga dan disambut dengan senyuman yang membuat Jaehyun ikut tersenyum juga. Gadis yang kemarin menyapanya dan menyerahkan pot kecil berisi bibit bunga pada Jaehyun.

“Lilac,” ucap mereka bersamaan, dan kemudian diiringi tawa renyah.

Jaehyun menyodorkan segelas kopi dan mereka kemudian duduk bersebelahan di kursi dekat pot besar bunga lilac. Mereka bercerita tentang hal keseharian hingga pemilik pet shop yang selalu membeli bunga mawar setiap hari Senin. Jaehyun merasa ia tertarik perlahan-lahan pada kehangatan yang dipancarkan gadis itu. Jantungnya masih berdetak tidak beraturan dan ia bertanya-tanya apakah ia akhirnya menemukan apa yang ia cari.

“Jadi, kau pindah ke area ini untuk mencari sesuatu yang terlewatkan dalam hidupmu?” tanya gadis itu. Tangannya sibuk membuat mahkota bunga. “Apa itu?”

Jaehyun mengangkat bahu. Meminum kopi yang sudah dingin, “Lilac, mungkin?” sahutnya dengan cengiran di wajah.

“Kau tahu apa arti bunga Lilac?”

Jaehyun menggelengkan kepala.

“Cinta pertama. Itu artinya.”

Jaehyun terdiam. Itu yang ia cari, dan ia menemukannya. Dan, Jaehyun menemukan dirinya kembali ke toko bunga itu keesokan harinya, dan terus berhari-hari kemudian. Ketika sang kakak menanyakan apakah ia sudah menemukan apa yang ia cari, Jaehyun akan tersenyum dan menjawabnya ‘Iya, aku menemukannya. Lilac’

20 steps to lilac. First love. Catat Jaehyun pada salah satu halaman buku favoritnya.

Author’s note: Hallo~ Ini ff dibuat saat lagi jatuh cinta sama Jaehyun Oppa *cie bisa dipanggil Oppa* hihihi. FF lama yang mau dimasukin ke book project tapi gak jadi. Daripada tersembunyi di folder, lebih baik di-posting di sini XD Yang baca wajib komen ya dear~ Love~

 

Iklan

4 pemikiran pada “20 Steps to Lilac

  1. Adem iih bacanya… :3
    Gaya bahasanya ituloh, tenang dan menghanyutkan.hehe

    Aku suka deskripsi setting nya, detail, tp ga berlebihan. Bikin enak dibaca dan mudah dibayangin X3

    Jaehyun enak yaa dikelilingi orang2 yang penuh kasih sayang, baik, ramah… Keliatannya sederhana, tp di kehidupan nyata nyari orang2 yg dari awal udah ramah atuh mah susah… Hahaha

    Aku iin, 94line btw. Salam kenal ^^

  2. untuk seseorang yang belum pernah mendapatkan cinta pertama /kebanyakan one sided love sih/ ini menghimpun segenap pemikiran yang indah tentang cinta pertama itu sendiri kak ❤
    ahhhh~ awesomeee kak……
    aku padamu ❤

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s