I To U: A – L

I TO U -winner jinwoo -violetlecil

I To U by violetkecil
drabble series
A to Z love story from WINNER Jinwoo’s POV.

Adore, verb

Kau mencuri perhatianku sejak kau melangkahkan kaki menuju kursi di depanku. Ketika kau menoleh dan tersenyum. Dengan satu kata singkat ‘Hi’. Saat itu aku menjadi lupa bagaimana caranya membalas senyuman. Ini mungkin berlebihan, tapi sungguh, sejak saat itu kau berhasil mengunci hatiku dan mengambil kuncinya. Aku mulai memperhatikan setiap hal yang kau lakukan. Senyum yang terbentuk di sudut bibirmu setiap kelas berakhir. Jemari lentikmu yang menyelipkan rambut ke belakang telinga. Dahimu yang agak berkerut jika ada hal yang tidak kau mengerti. Orang benar ketika mengatakan saat kita sedang jatuh cinta kita akan memperhatikan setiap hal tentang orang yang kita cintai, sekecil apapun hal itu.

Blossom, verb

Ada deretan pohon sakura di belakang kampus, dekat dengan gedung perpustakaan lama. Tidak banyak mahasiswa yang mengunjungi gedung itu karena buku-buku di sana termasuk tidak lagi update. Tapi aku suka mengunjungi gedung itu. Tempat favoritku adalah meja yang menghadap ke luar ke deretan pepohonan itu.

Sore itu ketika aku menopang wajah di lengan yang kulipat di atas meja. Lengan terulur dengan jari bermain di kaca yang agak berdebu. Aku tidak menyangka dirimu duduk di kursi tepat di sampingku dengan sebaris kata, “Bukankah itu pemandangan yang cantik ketika bunga-bunga sakura mulai bermekaran?”

Aku terkejut dan menoleh. Kau tahu? Aku menemukan yang jauh lebih cantik dari pemandangan itu. Dirimu.

Courage, noun

Saat di SMA sahabatku selalu mengejekku karena tidak pernah berani menyapa gadis yang aku suka. Anak itu sungguh menyebalkan jika mengejekku dengan kata-kata ‘Jinwoo-ya, kau pengecut’. Aku ingin menenggelamkannya di kolam iklan belakang rumah. Tapi, mungkin ia benar. Aku tidak berani menyapa, terlebih mengungkapkan perasaan pada gadis yang aku suka. Aku takut mereka tidak menyukaiku dan menganggapku aneh.

“Hi, kita bertemu di kelas Matematika Dasar. Aku Jinwoo,” ucapku sambil mengulurkan tangan. Oh Tuhan, apa yang aku lakukan? Otakku kalah cepat dari hatiku. Aku panik, namun ketika kau tersenyum dan mengulurkan tangan juga. Mengepal tangan dinginku dengan lembut.

“Aku tahu. Ini namaku,” sahutmu sambil menunjuk nama yang tertulis di sampul buku berwarna biru.

Aku bersorak dalam hati. Aku menemukan keberanianku. Yuhu!!!

Day, noun

Kita selalu bertemu setiap hari Senin di kelas yang sama-sama kita ambil. Aku masih sering duduk di belakangmu—memperhatikan punggungmu. Itu lebih menarik dari dosen yang sedang menyampaikan materi. Tanpa aku sadari aku selalu tidak sabar menunggu hari Senin tiba. Jika kebanyakan orang membenci hari itu, aku justru menyukainya. Kenapa? Karena di hari itu ada dirimu.

Dan, kita juga bertemu kembali di hari Sabtu. Berawal dari pertemuan pertama di perpustakaan itu. Seminggu kemudian kita bertemu lagi. Tidak banyak kata yang tertukar di antara kita. Hanya duduk dan membaca buku. Dengan diriku yang diam-diam mencuri pandang ke arahmu. Aku tidak ingin hari ini cepat berakhir. Aku tidak ingin hari Minggu tiba. Tapi, bukankah kita akan bertemu lagi hari Senin? Ah, ini membuatku bingung.

Excited, adj

Jadi hari Senin-ku dimulai seperti. Teriakan Seunghoon “Jangan berlari di koridor asrama!”. Aku akan lebih memilih tangga dibanding elevator. Berulang kali melihat jam di pergelangan tangan. Bukan karena aku takut terlambat tapi karena… kau tahu alasannya. Jarak antara asrama dan kampus adalah lima belas dengan berjalan kaki. Sepuluh menit jika berlari seperti yang aku lakukan. Kelas Matematika Dasar di Gedung B lantai dua. Perlu 5 menit dengan berjalan cepat. Tidak boleh berlari di koridor gedung karena bisa-bisa aku terpeleset jika tidak hati-hati. Aku tidak mau mengambil resiko itu. Kemudian 2 detik untuk membuka pintu kelas. Duduk di kursi favoritku dan menunggu sepuluh menit hingga kamu muncul di depan pintu, dua puluh detik hingga kau duduk di depanku. Dalam rentang waktu itu, jantungku melompat cepat. Dan ketika kau tersenyum menyapaku, ingin rasanya aku meloncat dari kursi.

Friend, noun

“Apakah kita sekarang berteman?” tanyaku konyol.

“Lalu kau sebut apa namanya saat kita menghabiskan hari Sabtu di perpustakaan?”

“Eung, library-mate?” sahutku ragu. Astaga apa-apaan ini Jinwoo? teriak otakku, panik.

Kau tidak menyahut dan hanya menarik tanganku, “Ayo, aku akan mentraktirmu es krim!”

“Kau sedang menang lotre? Ini pertama kalinya kau mentraktirku, loh,” ucapku konyol, berusaha melucu tapi gagal.

Kau berbalik dan meletakkan tangan di pinggang, “Aku akan meresmikan pertemanan kita.”

Oh, aku tersenyum dan kini giliranku yang menarik tanganmu. Setengah berlari menuju sebuah toko es krim di tikungan jalan dekat kampus.

“Dan aku akan mentraktirmu, chocolate cake.”

Hari itu ‘pertemanan’ kami diresmikan dengan es krim vanilla dan chocolate cake.

Gorgeous, adj

Kau tersenyum sangat lebar. Sangat manis. Sangat… bagaimana aku harus menjelaskannya ya? Sungguh aku tidak menemukan kosakata yang tepat untuk senyumanmu itu.

Aku beritahu. Begini… senyuman itu terasa seperti segelas cokelat hangat di sore yang sedang hujan. Menyentuh dengan lembut, merayap dengan hangat, dan mengakar sehingga aku tidak bisa lupa. Semacam perasaan yang akan selalu aku ingat.

Kamu tersenyum untuk kedua kalinya. Jantungku melompat. Bagaimana bisa kau memberi efek seperti ini padaku? Jika aku bertanya seperti itu padamu, apa jawabanmu?

Ah, sebentar. Aku akan simpan pertanyaan itu untuk nanti ketika kita lebih dekat. Aku tiba-tiba menemukan sebuah kata untuk menggambarkan senyumanmu itu. Gorgeous?

Happy, adj

Apa hal yang membuatnya bahagia?

Mendapatkan nilai A? Bisa menonton konser grup idola? Mendapatkan hadiah dari orang tersayang?

Bagiku hal yang membuatku bahagia sangatlah sederhana. Senyumanmu yang hanya untukku. Senyumanmu ketika kita mengobrol singkat di perpustakaan. Sangat singkat, seperti ‘Apakah itu buku yang kamu suka?’ dan kau menjawab dengan anggukan dan senyuman.

Ukh, aku benar-benar terdengar seperti seorang remaja yang sedang jatuh cinta. So cheesy. Seunghoon pasti akan menertawakanku jika melihatku seperti ini. Hei, tapi sungguh. Aku mungkin sedang jatuh cinta dan ini juga membuatku merasa bahagia. Jika seperti ini rasanya jatuh cinta padamu, aku rela jatuh berulang kali setiap waktu. Tapi hanya denganmu, karena hanya dirimu yang membuatku bahagia.

OMG, aku terdengar sangat gombal!

Inspiration, noun

PLAK

“Berhenti memandangi layar laptop sambil tersenyum. Kau membuat bulu kuduk-ku berdiri.”

Aku hanya menjulurkan lidah sambil mengusap kepalaku yang dijitak Seunghoon. Dasar jahil, jitakannya cukup sakit. Tapi karena indera perasaku sudah disita oleh rasa bahagia jadi aku anggap saja aku tidak merasakan apa-apa.

Teman sekamarku itu masih berdiri di belakangku dan kemudian mejulurkan kepalanya-melihat apa yang sedang aku ketik. Aku menjauhkan wajahnya dari layar komputerku.

“Yah, pergi sana! Kau menggangguku!”

“Kau mengerjakan tugas kalkulus sambil tersenyum?” Ia melihatku dengan padangan ‘apa kau gila?

“Ssh, pergi sana!”

“Jawab aku! Ini berapa?” tanyanya sambil menyodorkan lima jari tepat di depan wajahku.

“Lima.”

“Kau masih normal,” teriaknya.

Oh God, kenapa aku punya teman sekamar yang aneh. Jelas saja aku normal, dan tidak gila. Aku hanya tersenyum karena tugas kalkulus kali ini sangat mudah. Salah, coret itu. Karena setiap aku mengerjakan tugas ini aku teringat senyuman saat kau berhasil menjawab soal ini di kelas.

Jacket, noun

“Yaaaaah hujan.”

Ucapanmu berlalu begitu saja di telingaku. Aku sibuk memandangi wajahmu dengan latar tetesan air hujan. Kau sangat cantik seperti seorang peri. Aku menepuk pipiku dalam pikiran. Aku harus berhenti jika tidak ingin terlihat aneh. It’s creepy Jinwoo-ya!

Kita terjebak di teras perpustakaan dan tidak membawa payung. Halte bus berjarak 100 langkah dari tempat ini, dan dengan hujan yang seperti ini pasti akan basah kuyup.

“Bagaimana jika kita hujan-hujanan?”

Yeee?” aku terkejut. Tidak menyangka itu akan keluar dari bibirmu.

“Ayo!” belum sempat aku merespon, kau sudah menarik tanganku.

Wait!” aku melepaskan jaket dan merentangkan di atas kepalamu. “Aku tidak ingin kau sakit,” ucapku dan kau membalasnya dengan senyuman.

Thanks, Jinwoo-ya.”

Kiss, verb

Sia-sia. Jaketku basah dan kau tetap saja basah karena hujan. Tapi kau menepis kekhawatiran dan rasa bersalahku dengan senyuman.

“Hei, berhenti mengerutkan dahi. Aku tidak apa-apa, nanti juga kering.”

“Tapi aku tidak ingin kau sakit,” ucapku, dan dalam pikiran mencatat untuk membawa payung dalam tas.

“Kau tahu? Aku sangat suka berada di bawah hujan. Rasanya semua beban dan apapun kekesalanku hari ini hilang. Dan ini menyenangkan. Berlari di bawah hujan, denganmu.”

Bagian terakhir kalimatmu kau ucapkan dengan pelan. Aku hampir melewatkannya. “Menurutku juga menyenangkan, karena denganmu.”

Tanpa kata-kata kita saling terdiam, menatap tetes air hujan yang masih enggan berhenti. Dari sudut mata aku melihat pipimu yang memerah. Kau pasti kedinginan, dan dengan sedikit rasa ragu aku melingkarkan lenganku di bahumu. Dan, diam-diam mengecup pelan puncak kepalamu.

Wajahmu semakin memerah.

Love, noun

Halte bus sepi, hanya ada kita berdua. Detak jantung beradu cepat dengan tetesan air hujan. Bibirku kelu karena dingin dan ragu untuk berkata. Otakku bekerja keras. Hati dan pikiran saling berdebat hebat. Haruskah aku mengatakan perasaaanku? Bagaimana jika kau menolakku? Bagaimana jika kau hanya menganggapku sebagai teman? Tapi tidak ada yang membiarkan temannya memeluk pundaknya dan mengecup puncak kepalanya tanpa protes, kan? Mungkin kau hanya merasa nyaman dengan keberadaanku? Bagaimana jika kau menjauh setelah aku mengungkapkan perasaanku? Tapi jika aku tidak mengungkapkan perasaanku kau akan menganggapku hanya mempermainkanmu? Bagaimana jika ada orang lain yang lebih dulu mengatakan perasaan padamu? Bagaimana jika kau mengatakan iya pada orang itu? Apakah aku sanggup hanya menjadi sebagai seorang teman bagimu? Apa…

“Aku pikir aku menyukaimu…” gumamku pelan.

Kau memalingkan wajah ke arahku.

“Tidak, tidak. Aku mencintaimu.”

Kau hanya memandangku dalam diam. Padangan mata yang tak mampu aku baca. Tanpa senyuman yang aku suka.

Oh God, benar! Ia tidak memiliki perasaan yang sama denganku. Apa yang harus aku lakukan?

➥Tbc; M – Z

Iklan

2 pemikiran pada “I To U: A – L

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s