Of Letters and You (for @889192_)

surongof letters and you by violetkecil

Apakah sebuah senyuman lebar dan tawa riang menandakan bahwa kamu bahagia? Apakah tangis menandakan kesedihan? Aku tidak bisa menjawabnya jika kamu menanyakan itu. Aku justru ingin bertanya padamu, bagaimana rasanya tertawa lepas? Bagaimana rasanya menangis? Aku tidak pernah bisa melakukan dua hal itu. Karena jantungku akan berhenti berdetak jika aku melakukannya. Jangan menatapku dengan pandangan aneh. Kalimat itu tidak berlebihan Dan, tentu bukan karena aku tidak memiliki perasaan. Aku hanya tidak bisa. Atau lebih tepatnya aku tidak boleh, walaupun aku ingin.
Hei, ini mungkin terdengar aneh, tapi maukah kau tersenyum setelah membaca ini?

To: naeun94@naver.com
From: chorong33@naver.com
Subject: Hi~

Hei maknae, apa kabarmu?
Aku lama tidak mengirimu pesan, tapi sungguh, jangan salahkan aku. Salahkan waktu yang sedikit dan aktivitas yang menumpuk. Terlebih aku baru saja memulai perkerjaan. Ini bukan pekerjaan yang hebat, hanya menjadi petugas perpustakaan. Tapi ini sangat menyenangkan. Percayalah. Setiap minggu ada buku-buku baru yang datang dan kau tahu? Rasanya sama seperti mendapatkan hadiah natal. Tapi tetap tidak mengalahkan bau buku-buku lama yang berjejer rapi di rak. Hei, aku bisa melihatmu memutar bola mata. Tapi, sungguh, di buku-buku itu kau akan menemukan hal yang berharga.
Ketika aku mengatakan ini hal yang berharga, aku serius. Sebentar, mungkin terlalu cepat menyimpulkan ini sebagai hal yang berharga, tapi Naeun-ah… aku percaya secarik kertas yang aku temukan ini adalah sesuatu yang berharga.
Kau ingat saat kau mengejekku karena menurutmu aku adalah tipe romantis yang tenggelam dalam novel dan percaya suatu saat akan ada seorang pangeran datang. Aku tidak mengelak. Mungkin inilah aku, dan aku percaya suatu saat pangeran itu akan datang. Atau mungkin selama ini dia ada di sekitarku dan aku tidak menyadari? Aaww, berhenti memelototiku.
Hei, aku bukan dirimu. Aku bukan gadis ceria dan aku tidak seberuntung dirimu. Iya aku tahu, aku harus berhenti berpikir seperti ini. Tapi, Naeuh-ah, kau beruntung menemukan pangeranmu. Aku iri T_T
Aku belum bercerita tentang tempat kerja baruku, kan? Oke, sekarang baca baik-baik.
Perpustakaan tempatku berkerja tidak besar tapi aku suka. Bangunannya memiliki desain seperti gedung-gedung tua di Belanda. Ada dua lantai. Lantai pertama tentu penuh dengan rak-rak buku dan dibuka untuk umum. Lantai dua terbagi menjadi tiga ruangan besar. Yang pertama adalah ruangan administrasi, yang kedua adalah tempat penyimpanan buku-buku, dan ruangan yang ketiga… aku tidak tahu. Ruangan itu terkunci. Kata kepala perpustakaan, ruangan itu milik anak pemilik perpustakaan, dan tidak ada seorang pun yang memasuki ruangan itu kecuali dia. Terdengar misterius? Tentu, dan aku penasaran.
Apakah terdengar sebagai tempat yang menarik? Aku tahu, kau pasti akan menjawab tidak.
Bagian yang menarik adalah… aku menemukan selembar kertas di sebuah buku saat aku sedang menata ulang buku-buku itu. Dilihat dari goresan pena, tulisan itu mungkin baru sebulan yang lalu dan ditulis oleh seorang laki-laki. Tulisan di kertas itu menarikku, ada satu perasaan yang begitu dalam. Sebuah perasaan sedih. Walau terkesan sedih, namun kalimat terakhirnya justru memaksaku untuk tersenyum.
“…maukah kau tersenyum setelah membaca ini?”
Itu tulisnya. Mungkinkah aku bisa bertemu dengan penulisnya?
Ada buku baru yang datang! Yes!
Bye~ aku akan mengirim pesan lagi nanti.

To: luhan204@baidu.com
From: guardiansuho@daum.com
Subject: Urgent!

Kertas yang aku selipkan di buku PS.I Love You-nya Cecilia Ahern sebulan yang lalu tidak ada lagi. Aku justru menemukan sebuah kertas baru dengan tulisan yang sangat rapi. Kau tahu apa artinya ini? Seseorang membaca tulisanku.
“Aku tersenyum.”
Itu yang tertulis di kertas itu. Masih baru dan sangat rapi. Dan, juga sangat singkat. Aku sedikit kecewa. Aku berharap ia menulis lebih panjang lagi.
Cukup tentangku. Aku menunggu kabar darimu. Bagaimana rasanya kembali lagi ke Beijing setelah empat tahun? Kau tidak lupa dengan bahasa ibumu, kan?
Xoxo,
PS. Aku baru saja menonton film Taiwan berjudul ‘When A Wolf Falls In Love With A Sheep’. Aku menemukan banyak kata yang bagus.

Terima kasih sudah tersenyum. Kau tahu? Sebuah senyuman akan membawa kebahagian untuk orang lain. Aku harap aku bisa melihat senyummu secara langsung.

Aku tidak berharap menemukan sebuah pesan yang baru di buku yang sama hari ini. Aku harap kamu juga sedang tersenyum. Ini terdengar agak canggung, tapi bolehkah aku tahu siapa kamu?
– KJ
PS. Aku menuliskan inisial namaku.

Kisah cinta mereka sederhana. Seperti sebuah buku bersampul agak usang yang terlalu sering dibaca. Seperti angin yang memainkan ujung rambutnya. Seperti dedauan yang jatuh saat musim gugur. Begitu sederhana dan berjalan apa adanya. Melewati garis-garis yang sudah diukir jauh sebelum mereka bertemu pandang.
Namanya Joonmyun. Kim Joonmyun. Pemuda dengan sorot mata hangat yang aku kenal sejak pertama kali ia bisa menulis. Ia selalu tersenyum dengan mata hangatnya. Jika kau tidak mengenalnya dan melihatnya dari dekat, kau akan kehilangan senyuman itu.
Sore ini ia terlihat lebih bahagia. Aku bisa melihat dari sorot matanya. Iya, hanya dari sorot matanya, karena kau juga tidak akan bisa melihat apapun dari raut wajah. Ia duduk di kursi yang membelakangi balkon. Tangan kanannya memegang sebuah buku. Sebuah buku lama yang masih tersampul dengan rapi. The Little Prince. Aku tidak bisa menghitung lagi sudah berapa kali ia membaca buku itu. Ia bercerita padaku, ‘Kau akan menemukan makna yang berbeda setiap membaca buku itu,’ jelasnya. Aku percaya kata-katanya itu.
Aku kemudian melihatnya meletakkan buku kesayangaannya itu dan mengambil sebuah buku berjudul The Echo Maker. Dari dalam buku ada sebuah kertas yang dilipat menyerupai bentuk hati. Joonmyun mengambil kertas itu dan membuka lipatannya dengan sangat hati-hati. Aku kemudian mendengar suara lembutnya menuturkan kata-kata yang tertulis pada kertas.
“Aku bekerja di perpustakaan ini –PC.”
Pertama kalinya aku melihat perubahan ekspresi di wajah Joonmyun. Tidak lama, karena kemudian ia memegangi dadanya. Aku tahu ia merasakan rasa sakit. Aku ingin mengomelinya karena tidak berhati-hati mengontrol emosinya. Tapi, melihat sorot matanya, aku tahu ada sebuah bahagia yang sepadan dengan rasa sakit itu.
Saat seperti ini, aku ingin memeluknya. Ia berhak mendapatkan kebahagian.

To: naeun94@naver.com
From: chorong33@naver.com
Subject: HAPPY
NAEUN-AH!!!
Masih ingat tentang secarik kertas yang aku ceritakan padamu? Penulisnya adalah seorang pria dan kami berjanji akan bertemu hari ini setelah perpustakaan tutup. Aku tidak bisa berhenti tersenyum hingga kepala perpustakaan memandangiku dengan tatapan aneh. Oke, mungkin aku sedikit aneh, tapi ini aneh yang tidak buruk kok.
Bye~

To: chorong33@naver.com
From: naeun94@naver.com
Subject: RE: HAPPY

ONNIEYA~ aku bahagia untukmu. Ingat jangan mudah membuka hatimu. Jangan biarkan ada yang melukaimu lagi. Aku tunggu kabar bahagia lainnya darimu.

Ini pemandangan baru bagiku. Joonmyun yang berulang kali merapikan kerah baju dan menjejer lima sweater di atas tempat tidur. Aku ingin tertawa jahil melihatnya seperti itu. Ia seperti gadis remaja yang sedang jatuh cinta dan baru pertama kali kencan. Sst, jangan beri tahu dia. Ia akan membunuhku jika ia tahu aku menyebutnya gadis remaja. Tapi, hei, jangan salahkan aku. Ia benar-benar terlihat seperti itu.
Aku ingin mengatakan ‘Kau akan terlihat tampan mengenakan pakaian apapun’. Saat seperti ini aku ingin menyentuh kerutan yang terbentuk di dahinya karena sedang berpikir keras. Ia menggigit bibir bawahnya, kemudian mengambil sebuah sweater berwarna biru muda. Pilihan yang tepat, batinku.
Aku kemudian mengekor di belakangnya ketika ia melangkah keluar kamar. Perlahan mengikuti langkah kakinya menuju sebuah kafe yang tidak jauh dari rumah.
Joonmyun pernah bercerita. Ia akan mengajak gadis yang ia suka menghabiskan sore di kafe. Ia akan memainkan piano dan mereka kemudian akan memandangi senja dari balik kaca di sudut kafe. Harapan yang sederhana. Dan itulah Joonmyun yang aku kenal.
Buku berjudul The Stranger yang belum selesai Joonmyun baca, menjadi pengalih perhatian pria itu sembari menunggu. Wajahnya terlihat datar, namun aku tahu pria itu pasti sedang berusaha keras mengontrol emosinya. Sesekali aku melihat darinya berkerut. Dan, sekali lagi aku ingin menyentil dahi yang menurutku agak lebar itu. Ssst, sekali lagi tolong jangan beri tahu Joonmyun.
“Maaf, apakah kamu Kim Joonmyun?”
Aku terkejut. Joonmyun mendongak dan langsung menutup bukunya. Seorang gadis cantik dengan dress katun bermotif bunga selutut tengah berdiri di samping meja. Aku memperhatikan gadis itu dan mulai menebak apakah ini gadis yang dimaksud oleh Joonmyun. Tanpa bisa mencegah diri, aku mulai menilai gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Jangan salahkan aku, Joonmyun berhak mendapatkan yang terbaik dan aku berharap gadis ini termasuk kategori itu. Gadis itu berambut hitam lurus yang melewati bahu. Aku melihatnya menyelipkan rambut di belakang telinga sambil menunggu jawaban Joonmyun. Matanya teduh dan serasi dengan senyumnya. Ia terlihat agak canggung, tapi itu wajar. Sudah lewat 30 detik dan Joonyum belum mengeluarkan suara apapun. Aku ingin berteriak pada pria itu, ‘Joonmyun aku tidak mengajarimu seperti ini’. Tapi itu akan percuma karena pria itu tidak pernah mendengarkanku.
“Iya,” sahut Joonmyun. Menghentikan pemikiranku yang sedang menilai gadis itu.
“Duduklah,” ucaplah selanjutnya. Ia berdiri cepat dan kemudan menarik kursi. That’s my gentlemen, batinku senang.
“Terima kasih,” suara lembut yang aku yakin membuat Joonmyun bersusah payah mengatur detak jantungnya. Gadis ini jelas adalah tipe Joonmyun. Dan aku memberi stempel setuju padanya.
Keduanya kemudian duduk berhadapan—terhalang meja dan terlihat sangat canggung. Aku menjadi gemas. Andai aku seorang cupid, aku ingin membuat mereka berdua langsung jatuh cinta. Oh, tidak. Itu tidak akan seru. Cinta harus berjalan perlahan dan ya, itu akan lebih baik untuk Joonmyun. Entah kenapa aku merasa seperti tanganku menjadi kaku ketika melihat keduanya saling menatap malu-malu. Dan, oh, Joonmyun-ku tidak sedikitpun menyembunyikan fakta bahwa ia sedang memandangi gadis itu dengan sangat intens. Dan, sebentar, wajah Joonmyun memerah senada dengan pipi gadis itu. Ini lucu. Aku seharusnya mengabadikan ini.
“Senang bertemu denganmu,” ucap Joonmyun formal dan sangat kaku. Sangat Joonmyun. Dan ini tanda untukku memberikan privasi untuk mereka berdua.

To: luhan204@baidu.com
From: guardiansuho@daum.com
Subject: Urgent!!!

Lu-ge! Bagaimana kesibukanmu? Apakah perawat-perawat di rumah sakit tempatmu bertugas masih sering mengedipkan mata padamu? Jangan salahkan mereka. Salahkan gen yang membuat wajahmu imut.
Kau ingat ketika aku bercerita tentang rencana pertemuanku dengan gadis itu? Kami bertemu pertama kali kemarin dan…

To: guardiansuho@daum.com
From: luhan204@baidu.com
Subject: RE: Urgent!!!

Joonmyun. Aku MANLY!
Yah, kenapa emailmu terpotong seperti ini? Jangan membuatku penasaran.

To: luhan204@baidu.com
From: guardiansuho@daum.com
Subject: RE: RE: Urgent!!!

Hyung, maaf. Aku tidak sengaja me-klik tombol send. Oke, aku lanjutkan.
Kau ingat ketika aku bercerita tentang gadis idamanku. Berambut panjang. Menyelipkan rambutnya di balik telinga sambil membaca buku. Jangan katakana kau lupa, karena aku ingat bagaimana kau menertawakanku saat itu. Nah, aku menemukannya!
YEHET! (Aku meminjam istilah Sehun. Jangan beritahu dia.)
Aku tidak pernah membayangkan sosoknya. Oke aku jujur, aku pernah membayangkannya dan itu melebihi ekspetasiku. Dia begitu cantik dan cerdas. Kami mengobrol banyak tentang buku. Ia menceritakan padaku buku-buku yang sering ia baca. Dari ceritanya aku tahu dia memiliki seorang adik laki-laki. Ia baru saja menyelesaikan kuliahnya di jurusan sastra di Kyunghee University. Ia menyukai warna-warna pastel. Dia juga menyukai desain arsitektur bergaya Victoria dan itulah mengapa ia sangat menyukai bangunan perpustakaan. Aku berterima kasih pada Ayah karena membangun gedung ini.
Dan, aku punya kabar bahagia. DIA SETUJU DENGAN AJAKANKU UNTUK MAKAN MALAM!
Aku sangat bahagia. Ada perasaan yang meletup-letup hingga aku melupakan rasa sakit yang juga muncul. Kau ingat ketika aku bertanya bagaimana rasanya jatuh cinta dan kau menjawab ‘seperti hotpot, banyak rasa’? Jawabanmu salah Hyung. Personifikasi itu tidak sesuai. Yang benar adalah seperti saat pertama kali aku berhasil naik sepeda tanpa roda tambahan, aku bahagia walaupun lututku penuh luka dan aku menjadi susah bernafas. Rasa bahagia itu seperti itu dan sepadan.
Tenang Hyung, aku bisa mengontrol emosiku. Ibu sudah mengajariku untuk mengontrolnya sejak kecil. Dan, tenang, aku tidak akan terluka. Berhenti terlalu khwatir. Kerutan di wajahmu akan semakin banyak.
XOXO,
PS. Aku baru saja selesai menonton God’s Quiz Season 1, dan ada satu episode dengan kasus seperti aku, walau aku tentu tidak berharap ‘tertawa terakhir kali saat menonton film komedi’.

To: guardiansuho@daum.com
From: luhan204@baidu.com
Subject: RE: RE: RE: Urgent!!!

Selamat!!! Aku ingin memelukmu saat ini dan menepuk punggungmu. Kau berhak untuk bahagia.
Bagiku cinta adalah hotpot, dan bagimu cinta adalah sepeda (ini versi singkat dari maksudmu, aku beri label sepeda). Karena Joonmyun-ah, cinta itu tergantung orang yang merasakannya. Ia punya banyak pengertian, namun yang pasti cinta membuatmu mengenal sakit dan bahagia di saat yang bersamaan. Seperti saat kau belajar naik sepeda, katamu.
Aku tidak bisa berhenti khawatir. Dan, hei! Tidak ada kerutan di wajah tampanku. Kau harus memberitahuku semuanya, oke? Aku ingin memastikan kau mendapatkan apa yang bisa membuatmu bahagia.

To: naeun94@naver.com
From: chorong33@naver.com
Subject: What do you think?
Hei! Aku mengirimu foto. Apakah dress ini cocok untuk kencan pertama?
Oh my God! Joonmyun mengajakmu makan malam besok. Apakah aku bisa mengatakan ini sebagai kencan pertama? Dia benar-benar tipe prince charming. Boyfriend every girl want. Son in law every mother want.
Aku pikir, setelah melihat bagaimana perceraian kedua orang tuaku, dan kemudian saat pacar pertamaku selingkuh, aku tidak akan jatuh cinta lagi. Tapi, ini terjadi. Aku ingin mengelak tapi aku rasa hatiku sudah terlanjur menyukainya. Benar yang pernah kau katakan tentang aku akan menemukan cinta itu lagi.
Apakah ini terlalu cepat? Terkadang aku menjadi takut. Apakah ia pilihan yang tepat? Apakah ia memiliki perasaan yang sama? Apakah ia tidak akan membuatku terluka? Banyak pertanyaan yang semakin membuatku ragu. Namun, ketika ia tersenyum kecil ketika memergokiku sedang menatapnya yang tengah membaca buku. Ketika ia menyodorkan segelas coklat hangat saat aku menunggu hujan reda. Ketika ia menyampirkan jaketnya di pundakku dan membuatku hangat. Aku menjadi yakin. Aku yakin dan memberanikan diri untuk menerima kenyataan bahwa aku mencintainya. Ini langkah besar untukku, dan jika aku tidak mengambil langkah ini, aku tidak akan pernah tahu.
Naeun-ah, apakah kau bahagia?
Joonmyun selalu menanyakan ‘apakah kau bahagia?’ setiap kami bertemu. ‘Kau akan menjadi bahagia ketika seseorang bertanya apakah kau bahagia. Karena kemudian otakmu akan berpikir ‘apakah aku bahagia?’ dan mencari-cari kembali setiap ingatan yang membuat bahagia.’ Itu yang dikatakan Joonmyun.

Aku ingin menangis. Aku ingin memeluk Joonmyun dan membisikkan kata ‘aku bahagia untukmu’. Aku merasa seperti seorang ibu yang sedang merelakan anaknya menikah. Tidak, perasaan ini lebih dari itu.
Aku mengenal pria berusia 23 tahun bernama Kim Joonmyun sejak ia pertama kali menuliskan kalimat ‘I’m Joonmyun’ di buku hariannya. Saat itu ia baru berusia 8 tahun. Dan. Lihatkah sekarang, ia bukan lagi bocah kecil yang selalu bertanya ‘Kenapa aku tidak boleh menangis dan tertawa?’. Ia sudah menjadi pria tampan impian semua gadis.
Joonmyun menyapaku hari ini dengan deretan kalimat, “Aku mencintainya. Mengapa rasanya seperti ini? Aku memberitahu Luhan, dan dia, sebagai dokter mengatakan aku tidak apa-apa asal aku bisa mengatur emosi. Ini menyedihkan. Saat ini aku sangat ingin tersenyum lebar dan tertawa. Haruskah aku mengatakan tentang diriku padanya? Apakah ia akan menerima keadaanku yang seperti ini?”
Aku memandanginya. Wajah datar itu memendam banyak emosi yang tidak bisa diungkapkan. Aku ingat ketika ia sedih, ia hanya akan memenuhi berlembar-lembar kertas dengan coretan tidak beraturan. Dan ketika ia senang, ia akan mengatur ulang semua buku di rak. Ia memandangi lembar buku, menutupnya dan kemudian menghilang di balik pintu.

Chorong-ssi,
Kau masih ingat pesan pertamaku tentang betapa inginnya aku tersenyum, tertawa, dan menangis, namun aku tidak bisa? Kau tahu alasan kenapa aku tidak bisa melakukannya? Aku pernah bilang jantungku akan berhenti berdetak. Dari kecil aku selalu diajarkan untuk mengontrol emosiku. Ketika anak lain menangis karena terjatuh dari sepeda, aku tidak. Bahkan, aku tidak bisa menangis di pemakaman ibuku.
Mereka bilang emosi yang berlebihan akan menyebabkan shock. Bahkan tersenyum yang berlebihan saja bisa menyebabkan kelumpuhan. Reflex Anoxic Sezures namanya penyakitnya. Kelainan pada arteri yang membuat darah yang dipompa jantung tidak sampai ke otak.
Hei, jangan memasang ekspresi wajah seperti itu. Aku tidak ingin kau bersimpati atau merasa sedih untukku. Aku baik-baik saja. Percayalah.

“Jadi?”
Chorong mendongak dari kertas yang sedang ia baca. Ini pertama kalinya ia melihat Joonmyun tersenyum. Ia baru sadar selama ini tidak pernah ada senyuman di bibir Joonmyun. Mungkin karena selama ini Chorong terlalu fokus pada sorot mata hangatnya yang penuh ekspresi. Chorong membalas senyuman itu. Ia juga menyodorkan selembar kepada pria yang berdiri di depannya.

Joonmyun-ssi,
Terima kasih sudah memberitahuku tentang dirimu. Sekarang ada aku, jika kau tidak bisa mengekspresikan perasaanmu, aku yang akan melakukannya. Aku akan tersenyum dan tertawa untukmu. Tapi, aku tidak ingin menangis untukmu.
Dan, ya…
Aku juga mencintaimu.

Aku tersenyum melihat Joonmyun-ku yang akhirnya menemukan kebahagiaan. Pria itu harus punya sebuah buku baru untuk menulis cerita cintanya. Ia tidak mungkin lagi menggunakan buku harian dengan sampul the little prince, bukan?

–kkeut

Note: Ada yang bisa menebak siapa tokoh ‘aku’ pada cerita ini? special gift (+super late gift) for my Onnie, Icha Onnie maafkan dongsaeng-mu ini ya. Hope you like this story.

andd yaaay~ I’m back!!! Akan mencoba menulis lagi. Mulai dari nol, jadi mohon support-nya. Mohon komen, kritik dan sarannya ya dear~

Iklan

9 pemikiran pada “Of Letters and You (for @889192_)

  1. KAK ASIH I JUST FOUND A NEW POST ON YOUR WP, YOURE FINALLY BACK KAKAK ;__; kak asih kemana aja kak kangen tau sama tulisan kakak jadi inget kalo dulu sering banget rusuhin komen box kak asih sama komenan ga penting yaTuhan maaf yah kak, aku masi suka bukain wp kakak loh terus langsung seneng gitu pas nemu postingan baru disini terus isinya fanfic lagi kak yabisa apa akunya, kalo kakak mau nulis lagi that’s always a good deed kak, seneng kalo writer favorit yang udah hiatus lama terus mau balik nulis lagi :’)

    i love the whole story you brought here kaak manis banget kalo tau mereka ketemuannya pake cara ‘ninggalin note di dalem buku’ they choose the old way yet so romantic, lebih romantis ketimbang cara kenalan jaman sekarang haha terus aku suka banget convo junmyeon sama lu-ge hehe terus about ‘aku’ disini tuh buku harian nya si junmyeon bukan? nebak doang sih kak soalnya kayanya buku harian dia udah nemenin dia dari kecil

    keep writing yah kak!

    P.S : Junmyeon cepet sembuh ya ;__;

  2. PARAH KAK ASIH PASTI GANGERTI JUST HOW MUCH I MISS YOUR WRITINGS. I WAS THE ONE WHO SENT U A TWEET SAYING THAT I’LL BE WAITING FOR YOU TO WRITE AGAIN HEHE!!! padahal blm pernah kenalan secara formal sih hehe ..abis aku anaknya awkward bgt. omong-omong kak asih WHY WHY WHY SURONG OUT OF NOWHERE?! tapi aku gabisa nolak juga? jadi sebenarnya junmyun sakit ya hu awalnya aku kira dia mythical creature gt gt but its good that he got a happy ending!! aku suka sih kak all in all fluffy bgt dan manis like in most innocent way possible trs diksinya juga secantik biasa walopun menurutku kalo dibandingin tulisan kak asih yg dulu sedikit lebih kaku, but its forgiven!! bcs the story itself is just beautiful, mungkin karena kak asih jarang nulis lg tp pasti nanti tbtb jadi bagus bgt lagi deh.. semangat terus kak asih!! aku seneng bgt nih kak asih balik lagi ke sini buat nulis!!!

    all best wishes, Abi

    • awwwww aku terharu banget~ ternyata ada yang kangen tulisan aku *nangis di pelukan luge’
      Jadi Surong karena ini FF request, hehehe
      Nah iya aku udah jarang banget nulis, huhu TARGET TAHUN INI NULIS LAGI, paling gak bisa sebulan sekali lah~ tetap support aku ya biar tambah rajin nulis

      THANKYOUUUUU~
      full of love for you~

  3. Tokoh aku disini kenapa nebaknya Naeun ya? Kepikiran aja dy, bahasa kamu always difficult asih and btw, ini bukan fanfic tapi novel metropop wkwkwk

    Mereka saling jatuh cinta hanya karna secarik kertas dan saling sent via buku awww itu so sweet ya jaman sekarang ini semuanya serba sosmed,, masih ada orang yg kayak mereka, its lovelyyyy surong all the way yeaaayy 😘😘

    Ini kalo diartiin ke Indonesia nya mah aku cinta kamu, pake banget,,

    Eh asih onnie skrg pny couple baru sih wkwkwk cuma grup ceweknya belom debut yaaa biasa lah ya ada 2 sih yg 1 dr jyp, 1 dr sment, 1 dr wment, 1 dr pledisent hohohoho

    Thank youuu yaaa udah dibuatin fanfic sejenis novel metropop nya, padahal udah lupa kalo pernah request sama kamu 😄😄😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s