[WIP] I will forget tomorrow

I will forget tomorrow…

a story by violetkecil

Salju turun perlahan. Dingin dan beku. Jalanan tampak sunyi, hanya beberapa pasang kaki yang melewati jalan di depan gedung apartemen. Langkah-langkah kaki yang tampak terburu-buru ingin menghindari udara dingin dan meninggalkan jejak di atas salju tipis. Dari kejauhan, sinar lampu terlihat kontras dengan gelapnya malam. Berkerlip riang membawa sinar di antara gelap.

Saat seperti itu tidak banyak yang bisa mereka lakukan. Hanya saling duduk diam di depan jendela apartemen yang tidak terlalu besar. Di atas sofa yang terlalu sempit untuk mereka berdua, dengan selimut yang menyelimuti bahu. Pundak bergerak perlahan seirama dengan tarikan nafas. Lutut tertekuk di depan dada, aman dalam pelukan kedua tangan. Sesekali mata terpejam—entah mengingat apa saja yang sudah terlewati.

Mereka terbiasa dengan keheningan, hingga tidak ada satupun di antara mereka yang membuka suara. Satu-satunya suara yang terdengar di ruangan itu hanyalah detak jarum jam.

Ia menoleh. Seraut wajah yang tidak bisa ia baca sedang menatap jauh ke depan. Ia ingin sekali menanyakan apa yang ada dipikiran pria itu, tapi ia tahu pria itu akan bercerita. Mungkin hanya menunggu saat yang tepat. Dengan nafas berat, ia menyentuh ujung selimut dan meletakkannya di atas sofa dengan pelan. Ia berjalan menuju dapur untuk membuat minuman yang setidaknya bisa menghangatkan mereka.

Asap kecil mengepul pelan dari teko ketika ia menuangkan air ke dalam gelas. Menguap pelan dan hilang. Ia bertanya apakah rasa sakit dan semua ingatan akan bisa menguap dan hilang semudah itu. Ia meletakkan teko ke tempat semula dengan hati-hati. Asap kecil masih mengepul pelan, ujung jarinya berusaha menyentuh asap itu. Tidak ada apapun yang terasa di ujung jarinya. Ia tersenyum pahit. Tidak ada rasa yang tertinggal ketika sesuatu menguap hilang.

Ia memegang tangkai kedua cangkir yang sekarang berisi cokelat hangat itu. Masih berdiri di dapur dan dari sana ia bisa melihat punggung pria yang selama ini selalu ada untuknya. Punggung itu kokoh dan ia percaya pemilik punggung itu akan kuat menghadapi apapun.

Cangkir berwarna putih dengan tulisan ‘Love you’ di satu cangkir dan ‘Love you too’ di cangkir lainnya itu terasa hangat di tangannya. Ia memasang senyuman. Ia tidak boleh menangis sekarang. Ia berusaha menguatkan diri dan berjalan pelan menuju sofa. Ia menyodorkan segelas cokelat hangat ke pria yang duduk diam di sampingnya.

Thanks,” pria dengan mata hangat itu tersenyum dan meminum cokelat hangat itu.

“Luhan?”

“Hmm?” pria yang ia panggil Luhan hanya menyahut singkat dan meletakkan cangkir di meja di samping sofa.

“Ada yang mengganggu pikiranmu?” ia meletakkan cangkir di tempat yang sama.

“Tidak ada. Kemarilah,” Luhan meletakkan tangan kirinya di bahu gadis yang ia sayangi itu. Membawanya ke dalam pelukan. Luhan meletakkan dagu di puncak kepala gadis itu dengan tangan kanan menggenggam jemari mungil yang terasa sangat sempurna di antara celah jemarinya. Lengan kanan gadis itu melingkar di pinggang Luhan. Mereka kemudian hanya saling diam.

“Kau ingat kata pertama yang aku ucapkan ketika kita bertemu?” tanya Luhan sambil memainkan rambut gadis itu dengan ujung jari tangan kirinya.

Perfect? Dan kamu tidak mengalihkan pandangan kecuali menatapku seperti terkejut.”

“Benar, karena kamu sempurna dan seakan tidak nyata, sehingga aku berpikir kau akan menghilang jika aku mengalihkan pandangan sedikit saja.”

Wajahnya memerah—bukan karena udara dingin, namun karena kata-kata manis yang diucapkan pria itu.

“Aku sangat beruntung bertemu denganmu saat itu. Dan aku lebih beruntung lagi saat kau mengucapkan kata iya.”

Ia tersenyum. Melingkarkan lengan di pinggang Luhan. “Ada yang menganggu pikiranmu?” tanyanya sekali lagi. Ia menyandarkan kepala di dada pria yangsudah bersamanya selama dua tahun ini. Dan ia tahu kata ‘tidak ada’ yang tadi diucapkan tidak sepenuhnya benar.

Ia tidak mendapatkan jawaban apapun, dan ia tidak ingin memaksa Luhan. Keheningan kemudian menyelimuti ruangan itu. Ia memejamkan mata—menghirup dalam-dalam aroma mint dari parfurm pria itu. Mendengarkan detak jantung yang seirama dan begitu menenangkan.

“Apakah kau akan pergi meninggalkanku suatu saat nanti?” tanya Luhan tiba-tiba.

Ia tersentak—mencerna pertanyaan yang begitu tiba-tiba, “Aku tidak akan pergi kemanapun jika kau tidak memintaku untuk pergi,” jawabnya.

“Apakah itu sebuah janji?”

Ia menganngguk. Luhan mengecup puncak kepalanya lembut.

“Aku takut kau akan pergi,” lirih Luhan.

Ia tidak tahu harus mengucapkann apa. suasana di ruangan seakan mendadak menjadi dingin.

“Kau ingat apa yang kau ucapkan setahun yang lalu?”

 WIP–work in progess

violetkecil’s note: Sekedar menghidupkan kembali blog ini, dan posting FF yang belum selesai alias putus di tengah jalan. Satu dari beberapa FF yang numpuk di folder WIP.

Jadi, aku pengen bikin proyek nulis iseng ‘Nulis Keroyokan bareng violetkecil” (abaikan nama protek aneh ini, gak nemu yang lebih bagus dari ini). Caranya: Kamu boleh lanjutan FF ini dengan tulis lanjutannya di box komentar. Semuanya boleh ikut dan boleh nulis, tapi harus urut loh biar bisa jadi satu cerita utuh.

Contoh Si A pengen nulis lanjutannya, Silahkan tulis [1] isi cerita bla bla bla

Kemudian ada si B pengen nulis juga, boleh, tapi liat apa yang ditulis Si A dan kemudian tulis lanjutannya, jangan lupa cantumin urutannya [2] misalnya.

Begitu seterusnya, dan jika kamu ingin nulis langsung ending, silahkan beri kode [ENDING]

Setelah jadi satu cerita/ff utuh, akan aku posting ulang di blog ini dan blog exofanfiction.

Gimana? Hitung-hitung untuk latihan nulis loh~ Jumlah yang ditulis juga bebas. Mau panjang 10 paragraf, atau pendek 2 kalimat juga boleh.

Ditunggu ya~

Masih akan proyek nulis keroyokan selanjutnya setelah FF yang ini selesai.

Silahkan komen jika kurang jelas.

Iklan

6 pemikiran pada “[WIP] I will forget tomorrow

  1. [ENDING] “Janji?”
    Tanya Luhan yang sambil mengangkat tangan kanannya yang membentuk sebuah jari kelingking di sana. Ia yang melihatnya hanya tersenyum, lalu mengangkat tangan kanannya dan membuat sebuah jari kelingking di sana dan menautkannya ke jari kelingking Luhan, membuat sebuah perjanjian. Kemudian, Luhan dan ia terus tersenyum bersamaan dengan jari kelingking mereka yang sedang bertautan malam yang sunyi itu untuk merasakan perasaan yang sedang di alami oleh Luhan dan ia.

    Keesokkan paginya

    Burung-burung yang tengah berkicauan di luar Apartement Luhan dan ia, membuat mereka berdua terbangun dari percakapan mereka berdua kemarin malam. Seakan tersadar dari alam mimpinya, Luhan dan ia terbangun dari alam mimpi mereka berdua masing-masing. Tapi jika seorang pasangan terbangun, maka akan mengucapkan ‘selamat pagi’ atau semacamnya kan kepada pasangannya?

    “Selamat pagi, Luhan” ucap ia sambil berduduk dan melihat ke arah kanannya. Seorang pria yang bersama dirinya, Luhan. Ia heran, mengapa Luhan tidak menjawab ucapannya seperti di hari-hari yang lalu. Melainkan, sedang menatapnya dengan bingung. Ia pun penasaran, dan bertanya kepada Luhan.

    “Ada apa Luhan? Mengapa kau tidak menjawab ucapanku?” Tanya ia sambil menatap ke arah Luhan dengan tatapan heran.

    “Siapa kau? Dan siapa aku?”

    Deg!

    Jawaban Luhan membuat ia membulatkan matanya dengan tidak percaya apa maksud perkataan yang di jawab Luhan atas pertanyaan yang ia ajukkan terhadapa Luhan. Sambil berusaha mencairkan suasana. Ia berpikir, jika Luhan hanyalah bercanda.

    “Janganlah bercanda, Luhan! Ini tidaklah lucu!” Ucap ia sambil tertawa kaku serta menatap ke arah Luhan sekali lagi. Tapi, ia tidak mengetahui apa yang terjadi kepada Luhan. Sehingga membuat ia bingung. Berbeda dengan Luhan, Luhan menatap ia dengan tatapan bingung, sekali lagi.

    “Luhan?” Tanya ia lagi sambil berusaha menyentuh Luhan yang terlihat sedang bingung itu.

    “Jangan sentuh aku! Aku tidak mengenal dirimu!” Ucapan Luhan itu membuat ia langsung menjauhkan tangannya yang hampir mendekati tubuh Luhan dengan tatapan yang tidak percaya. Ia melihat Luhan yang tengah menatatap ia dengan ketakutan. Seakan-akan ia adalah seseorang yang berbahaya jika ia berada di samping Luhan.

    Tidak mengetahui apa yang terjadi dengan Luhan, ia pun menelpon dokter yang ia dan Luhan percayai.

    “Halo?”

    “Dokter, apakah Luhan ada ke tempat anda untuk berobat?” Tanya ia langsung di panggilan telepon itu.

    Di sebrang sana terdengar diam.

    “Dokter, apakah anda masih ada di sana?” Tanya ia kembali karena ia tidak mendengar jawaban dari sebrang sana.

    “Ya. Luhan ada ke tempat saya kemarin.”

    “Lalu, apa yang terjadi?”

    “Dia mengidap sesuatu penyakit–”

    “Penyakit apa?”

    “Dia akan lupa terhadap siapapun termasuk dirinya ketika bangun di besok hari.” Jawaban dari dokter itu membut ia membulatkan mata sekali lagi. Sadar akan sekarang, ia bertanya lagi kepada dokter.

    “Cara menyembuhkannya?”

    “Kemungkinan tidak ada. Tapi, Luhan dapat di ingatkan jika Luhan mau membuat buku harian tentang siapa dirinya, orang-orang yang dia percayai, ataupun hal-hal lainnya. Lalu, membacanya besok hari ketika dia terbangun dari tidurnya.” Ucap dokter itu membuat ia kembali menatap Luhan yang tengah menatatap dengan tatapan bingung lagi.

    “Terimakasih, dok”

    “Sama-sa–” tanpa mendengar ucapan dokter selanjutnya, ia langsung mematikan panggilan tersebut kemudian membanting handphone yang ia gunakan untuk menelpob dokter tadi ke lantai. Sehingga membuat Luhan terkejut dan takut terhadap ia. Luhan yang terkejut dan ketakutan seperti seorang anak kecil itu memberanikan diri untuk bertanya kepada ia.

    “Apa yang telah terjadi? Siapa diriku?” Tanya Luhan kepada ia. Sadar di dalam ingatan ia, jika Luhan tengah mengalami suatu penyakit yang sangat tidak ingin ia ketahui. Ia pun kembali mengingat dimana Luhan menginginkan ia agar tidak melupakannya. Lalu, mengapa di suatu kenyataan Luhan yang menginginkan ia agar tidak melupakannya, tapi sesungguhnya Luhanlah yang melupakan ia.

    “Kau mengingkan aku, untuk tidak melupakanmu. Tapi, mengapa kau melupakanku?” Ia bertanya sambil menangis menghadap ke arah Luhan. Luhan yang sedang tidak ingat terhadap apapun, hanya mengernyitkan dahinya kebingungan.

    Ia terus menangis dan Luhan terus diam memperhatikan ia yang terus menangis tanpa henti.

    Ia pun berhenti menangis. Ia lelah menangis, karena berapa banyak air matanya yang keluar tidak akan pernah membuat Luhan kembali mengingat semuanya. Kemudian, ia tersenyum ke arah Luhan. Luhan yang awalnya lega, karena ia sudah berhenti menangis dan kemudian tersenyum, memberanikan diri bertanya kepadanya.

    “Jadi, apa yang terjadi? Dan siapa diriku?” Tanya Luhan sambil menatap kearahnya. Ia yang mendengar pertanyaan Luhan hanya tersenyum dengan mata yang sembab itu. Lalu menjawab,

    “Kau lupa ingatan. Dan, namamu Xi Luhan.”

    -END-

    —–Aduh kak, maaf ya aku langsung ngambil endingnya >< maaf juga kalau hasilnya gak bagus~~

    Makasih ❤

    • Kak, maaf ada kesalahan pencetakkan/?.
      Yang kata miring itu, mungkin cuman
      ‘Keesokkan paginya’ , ‘Deg!’ Dan perkataan dokter itu yakk~~

      Maaf ya kak, habisnya aku lagi main dj hp 😀

  2. [ENDING] “Janji?”
    Tanya Luhan yang sambil mengangkat tangan kanannya yang membentuk sebuah jari kelingking di sana. Ia yang melihatnya hanya tersenyum, lalu mengangkat tangan kanannya dan membuat sebuah jari kelingking di sana dan menautkannya ke jari kelingking Luhan, membuat sebuah perjanjian. Kemudian, Luhan dan ia terus tersenyum bersamaan dengan jari kelingking mereka yang sedang bertautan di malam yang sunyi itu untuk merasakan perasaan yang sedang di alami oleh Luhan dan ia.

    Keesokkan paginya

    Burung-burung yang tengah berkicauan di luar Apartement Luhan dan ia, membuat mereka berdua terbangun dari percakapan mereka berdua kemarin malam. Seakan tersadar dari alam mimpinya, Luhan dan ia terbangun dari alam mimpi mereka berdua masing-masing. Tapi jika seorang pasangan terbangun, maka akan mengucapkan ‘selamat pagi’ atau semacamnya kan kepada pasangannya?

    “Selamat pagi, Luhan” ucap ia sambil berduduk dan melihat ke arah kanannya. Seorang pria yang bersama dirinya, Luhan. Ia heran, mengapa Luhan tidak menjawab ucapannya seperti di hari-hari yang lalu. Melainkan, sedang menatapnya dengan bingung. Ia pun penasaran, dan bertanya kepada Luhan.

    “Ada apa Luhan? Mengapa kau tidak menjawab ucapanku?” Tanya ia sambil menatap ke arah Luhan dengan tatapan heran.

    “Siapa kau? Dan siapa aku?”

    Deg!

    Jawaban Luhan membuat ia membulatkan matanya dengan tidak percaya apa maksud perkataan yang di jawab Luhan atas pertanyaan yang ia ajukkan terhadapa Luhan. Sambil berusaha mencairkan suasana. Ia berpikir, jika Luhan hanyalah bercanda.

    “Janganlah bercanda, Luhan! Ini tidaklah lucu!” Ucap ia sambil tertawa kaku serta menatap ke arah Luhan sekali lagi. Tapi, ia tidak mengetahui apa yang terjadi kepada Luhan. Sehingga membuat ia bingung. Berbeda dengan Luhan, Luhan menatap ia dengan tatapan bingung, sekali lagi.

    “Luhan?” Tanya ia lagi sambil berusaha menyentuh Luhan yang terlihat sedang bingung itu.

    “Jangan sentuh aku! Aku tidak mengenal dirimu!” Ucapan Luhan itu membuat ia langsung menjauhkan tangannya yang hampir mendekati tubuh Luhan dengan tatapan yang tidak percaya. Ia melihat Luhan yang tengah menatatap ia dengan ketakutan. Seakan-akan ia adalah seseorang yang berbahaya jika ia berada di samping Luhan.

    Tidak mengetahui apa yang terjadi dengan Luhan, ia pun menelpon dokter yang ia dan Luhan percayai.

    “Halo?”

    “Dokter, apakah Luhan ada ke tempat anda untuk berobat?” Tanya ia langsung di panggilan telepon itu.

    Di sebrang sana terdengar diam.

    “Dokter, apakah anda masih ada di sana?” Tanya ia kembali karena ia tidak mendengar jawaban dari sebrang sana.

    “Ya. Luhan ada ke tempat saya kemarin.”

    “Lalu, apa yang terjadi?”

    “Dia mengidap sesuatu penyakit–”

    “Penyakit apa?”

    “Dia akan lupa terhadap siapapun termasuk dirinya ketika bangun di besok hari.” Jawaban dari dokter itu membut ia membulatkan mata sekali lagi. Sadar akan sekarang, ia bertanya lagi kepada dokter.

    “Cara menyembuhkannya?”

    “Kemungkinan tidak ada. Tapi, Luhan dapat di ingatkan jika Luhan mau membuat buku harian tentang siapa dirinya, orang-orang yang dia percayai, ataupun hal-hal lainnya. Lalu, membacanya besok hari ketika dia terbangun dari tidurnya.” Ucap dokter itu membuat ia kembali menatap Luhan yang tengah menatatap dengan tatapan bingung lagi.

    “Terimakasih, dok”

    “Sama-sa–” tanpa mendengar ucapan dokter selanjutnya, ia langsung mematikan panggilan tersebut kemudian membanting handphone yang ia gunakan untuk menelpob dokter tadi ke lantai. Sehingga membuat Luhan terkejut dan takut terhadap ia. Luhan yang terkejut dan ketakutan seperti seorang anak kecil itu memberanikan diri untuk bertanya kepada ia.

    “Apa yang telah terjadi? Siapa diriku?” Tanya Luhan kepada ia. Sadar di dalam ingatan ia, jika Luhan tengah mengalami suatu penyakit yang sangat tidak ingin ia ketahui. Ia pun kembali mengingat dimana Luhan menginginkan ia agar tidak melupakannya. Lalu, mengapa di suatu kenyataan Luhan yang menginginkan ia agar tidak melupakannya, tapi sesungguhnya Luhanlah yang melupakan ia.

    “Kau mengingkan aku, untuk tidak melupakanmu. Tapi, mengapa kau melupakanku?” Ia bertanya sambil menangis menghadap ke arah Luhan. Luhan yang sedang tidak ingat terhadap apapun, hanya mengernyitkan dahinya kebingungan.

    Ia terus menangis dan Luhan terus diam memperhatikan ia yang terus menangis tanpa henti.

    Ia pun berhenti menangis. Ia lelah menangis, karena berapa banyak air matanya yang keluar tidak akan pernah membuat Luhan kembali mengingat semuanya. Kemudian, ia tersenyum ke arah Luhan. Luhan yang awalnya lega, karena ia sudah berhenti menangis dan kemudian tersenyum, memberanikan diri bertanya kepadanya.

    “Jadi, apa yang terjadi? Dan siapa diriku?” Tanya Luhan sambil menatap kearahnya. Ia yang mendengar pertanyaan Luhan hanya tersenyum dengan mata yang sembab itu. Lalu menjawab,

    “Kau lupa ingatan. Dan, namamu Xi Luhan.”

    -END-

    —–Aduh kak, maaf ya aku langsung ngambil endingnya >< maaf juga kalau hasilnya gak bagus~~

    Makasih ❤

  3. Ceritanya ka violetkecil udah lumayan, tapi bukannya romantis, feelnya jadi berasa Luhan itu cowok lemah gemulai ya pas baca lanjutannya di kolom komen -_-

  4. [2] mereka membiarkan keheningan mengisi ruangan perlahan kemudian dan hanya saling memandangi satu sama lain, ia mengamati roman wajah pria di depannya lembut dan tersenyum, “Tapi ini tidak pernah tentangku, ini tentangmu, terimakasih telah memberiku kesempatan untuk mencintaimu, terimakasih untuk semuanya, terimakasih telah ada di dunia ini, ini tentangmu, semuanya tentang-”

    Luhan memotong dengan ciuman singkat, “tentang kita. Semuanya tentang kita,”

    Kali ini ia yang tersenyum, tapi kemudian tertawa kecil, “Apa yang kau pikirkan saat ini?” ia mendongak untuk menemukan pria yang sedang memeluknya menatapnya lembut. Memainkan jari-jarinya di atas dada bidang pria itu.

    “Bahwa aku ingin terus seperti ini,”

    Jawaban yang membuatnya memeluknya lebih erat, Luhan mengecup lagi puncak kepalanya. Mereka memandangi langit-langit rendah apartemen. Mungkin mereka bisa melakukannya seperti ini setiap hari. Mungkin di pertengahan musim dingin yang lain Luhan masih akan tetap memeluknya dan tetap terasa sama hangat. Mungkin mereka akan tetap mengabaikan suara-suara di balik jendela, dan menikmati keheningan dengan berbagi kehangatan.

    “Kau tidak akan pernah meninggalkanku.”

    “Tidak akan,”

    “Janji?”

    [-im a despicable human being ._.v]

  5. [1] Luhan membelai pelan rambutnya.
    “Ya, aku ingat… Aku berkata bahwa… Hey.. Itu hanyalah lelucon, dan kau menanggapinya dengan sungguh2??” Ia mendengus pelan kemudian melepaskan pelukannya dan berlagak sebagai anak kecil yang tengah merajuk. Luhan tertawa kecil, kemudian dia menggenggam tangan gadis itu.. Mencoba untuk menyalurkan kehangatan yang ia punya di dalam tubuhnya.
    “Aku tahu.. Itu hanyalah sebuah lelucon bagimu, tapi berjanjilah.. Kata2 itu tidak akan menjadi alasan kau meninggalkanku… Terima kasih telah menjadi orang yang ku cintai dan orang yang mencintaiku…” Luhan mencium singkat gadisnya, sungguh tak ada nafsu yang sedang bergelut di otaknya. Dia hanya mencoba menyalurkan rasa sayangnya di dalam ciuman manis itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s