A Dream is a Wish Your Heart Makes

Apa yang lebih menyebalkan daripada suara alarm di pagi hari? Pukul enam pagi dan ia baru bisa tidur jam empat pagi. Ia menutup telinga dengan bantal dan tangan kanan meraih ponsel. Menekan tombol off yang sudah sangat ia hapal letaknya. Ia kemudian menarik selimut dan menenggelamkan seluruh tubuhnya—meringkuk di dalam kain tebal berwarna merah muda itu.

Beep beep beep

Oh my day! Ia mengumpat dalam hati. Alarm dari ponsel kembali berteriak-teriak lantang. Tangan kanannya kembali dengan lincah mengambil ponsel dari meja di samping tempat tidur. Dengan mata yang sedikit terbuka, ia menyentuh icon off. Ia sudah ingin memejamkan mata lagi ketika melihat note di layar depan ponsel dengan tulisan ‘URGENT’. Semua dengan huruf kapital. Setengah sadar ia menekan icon note dan sedetik kemudian selimut terlempar ke sudut ruangan.

Oh my!

Ia berlari menuju kamar mandi dan sial, lututnya membentur ujung meja rias. Untuk yang kedua kalinya pagi itu ia mengumpat dalam hati. Bukan permulaan yang bagus di pagi hari tentunya.

Laboratory test result, water content, check, unit weight, check, specific gravity, check, Waterberg limit, check, sieve analysis, check, direct shear, check, Unconfined Compressive Strength, check, consolidation, check.”

Ia mengambil bundelan kertas dengan kertas berhiaskan bekas tanah di atasnya. Membaca catatan kecil di pojok bawah kertas. Catatan dengan tulisan yang mengalahkan tulisan dokter di resep obat.

Clayey silts with sand. Hm… Dan ini organic clays.” Ia mengernyitkan dahi sambil memeriksa kata yang tercetak di lembar awal laporan laboratorium. “ML dan OH, check.”

Ia mengambil tas dan laporan terpisah yang berisi perhitungan daya dukung tanah, analisa dan rekomendasi teknis. Sekilas ia melirik jam di pergelangan tangan. Masih jam tujuh dan ia masih memiliki waktu untuk mengisi perut di kafe dekat kantor.

Ia keluar dari kamar dan flat kecil yang tampak tidak serapi biasanya. Ia hanya bisa menghembuskan nafas berat dan menuju pintu. Sedikit memicingkan mata ketika cahaya matahari menyapa indera penglihatan. Seoul masih terbalut musim dingin tapi matahari mulai bersinar dengan terangnya. Hal itu memberinya sedikit semangat, walaupun jauh dalam dirinya masih berharap bisa berada di bawah selimut tebal.

Tas berwarna putih gading bertengger manis di bahu dan ia memegang laporan di tangan kanan. Pagi itu terasa hangat dan ia menarik sudut bibir. Tidak perlu angkutan umum untuk menuju kantor, cukup berjalan kaki lima belas menit dari flat dan sebuah gedung dengan desain sangat minimalis akan menyapa. Sebelumnya, sekitar lima menit dengan berjalan kaki sebelum menuju kantor, ada sebuah kafe kecil. Kafe hangat dengan pelayan tampan yang selalu menyapanya dengan…

“Pagi Minah. Hot chocolate?”

Ia baru membuka pintu kafe dan masih jauh dari counter, tetapi sapaan hangat itu sudah terdengar. Ia tersenyum, “Ne Oppa.”

“Duduklah dulu, nanti aku antarkan ke mejamu.”

Ia, gadis dengan rambut sebahu yang hari ini memilih skiny jeans hitam, blouse berwarna baby pink dan coat putih dengan warna senada tas, duduk di tempat biasa. Meja di sudut kafe yang tepat di samping jendela kaca besar. Dari sudut itu ia bisa melihat hiruk pikuk Seoul di pagi hari. Ia selalu membayangkan akan bertemu dengan seseorang di saat ia berada di tengah kesibukan pedestrian itu.

“Pagi yang terlalu indah untuk melamun, huh?”

Ia terkejut dan menoleh ke sumber suara,”Oppa.”

Here.” Segelas cokelat hangat dan sepotong chocolate cake. Chocolate cake? Ia tidak ingat memesan itu dan anehnya ada sebuah lilin kecil di cake berbentuk persegi itu. Ia mendongak dan menemukan segaris senyuman.

Happy birthday Minah.”

Oppa…”

“Hei, tentu saja aku ingat ulang tahun adik tersayangku. Sudah jangan menangis,” pria yang lima tahun lebih dewasa darinya itu mengacak-acak rambutnya dengan penuh kasih.

Make a wish dan tiup lilinnya.”

Ia tersenyum penuh haru. Gadis dengan mata coklat gelap itu memejamkan mata—berdoa dalam hati dan kemudian meniup lilin. Ia ingin menangis. Dari banyak orang dalam hidupnya hanya sedikit yang mengingat ulang tahunnya. Ia bahkan ragu apakah ayahnya masih mengingat hari ia lahir dua puluh tiga tahun yang lalu.

Sst, haruskah aku menyanyikan lagu Baby Don’t Cry dari EXO kesayanganmu itu?”

Oppa, thank you.” Ia meminum cokelat yang terasa jauh lebih hangat dan kue yang juga terasa lebih manis. Pagi yang hangat dan manis, batinnya.

“Kau harus kerja, bukan?”

Ah, iya.” Ia melirik jam dengan jarum jam panjang di angka enam. Ia berdiri dan keluar dari kafe. Sedikit terburu-buru hingga tanpa sengaja menabrak seorang pria bertopi yang berdiri di dekat pintu dengan segelas kopi di tangan.

Ah, sorry,” ucap pria sambil membungkukan badan.

Gwenchanayo,” ia tersenyum, tapi senyum itu hilang ketika melihat noda berwarna kecoklatan terlihat jelas di mantelnya. Tetapi hal itu ia abaikan, ia harus segera tiba di kantor sebelum sang atasan mengeluarkan omelan sepanjang rel kereta api.

Lee Minah, namanya. Dan ia tidak tahu ada yang tertinggal, lebih dari sekedar noda kopi di mantel putih gading.

Siang hari dan panas, dan setumpuk laporan yang belum ia periksa menanti di atas meja. Dua minggu dengan pekerjaan yang baru dan sudah cukup membuat kepalanya berdenyut. Jam menunjukan waktu istirahat siang dan seluruh rekan kerjanya sudah memiliki janji masing-masing.

My poor single life, batinnya. Ia mengambil tas dan berjalan keluar ruangan. Restoran ayam yang berada di seberang kantor menjadi pilihan. Ia bukan penggemar ayam, tetapi yang jelas ia penggemar dari seseorang yang tergila-gila pada ayam. Ia memilih makan sendiri di sudut restoran dengan seporsi ayam tersaji di atas meja. Masih belum tersentuh.

“Wow,” ia bergumam pelan. Matanya tertuju pada seorang pria yang makan sepotong paha ayam dengan penuh semangat. Dan anehnya dengan kacamata hitam.

Mungkinkah itu Lee Jinki?

Ia menepis pikiran itu. Tidak mungkin. Mungkin saja. Tidak mungkin. Ia berdebat dengan akal sehat. Walaupun ia berharap suatu saat bisa bertemu dengan salah satu pria yang ia suka, tapi apa yang ada dalam pikirannya sekarang mungkin tak lebih dari sekedar mimpi. Terlalu mustahil untuk menjadi kenyataan.

Wake up Minah! Ia membayangkan menepuk kedua pipi.

Ayam di depan mata jauh lebih nyata daripada seorang ‘Lee Jinki’ yang sedang makan paha ayam dengan semangat penuh. Itu hanya mimpi, yakinnya.

Tapi…  Mana ada orang yang makan ayam dengan kacamata hitam seperti itu?

Mungkin ia sedang sakit mata.

Tid—

Dua pemikiran berhenti mendadak pada satu titik dimana seluruh hal di sekitarnya berhenti bergerak. Kenapa? Apakah Tao EXO-M sedang menghentikan waktu? Tidak. Lalu? Pria itu melepas kacamatanya dan sadar ada seorang gadis sedang memperhatikannya, dan…

Dan?

Pria itu tersenyum sangat manis hingga membuat matanya terlihat seperti bulan sabit.

Dan?

Itu Lee Jinki.

Minah bukan lagi gadis remaja belasan tahun yang akan berteriak histeris jika bertemu sang idola secara tidak sengaja. Akan tetapi, ia tetaplah seorang gadis yang memiliki perasaan suka. Pria itu beranjak dari duduknya dan kemudian menghilang di balik pintu keluar restoran sebelum gadis itu berkedip dan otaknya kembali bekerja.

Babo! Babo! Babo!” ia memukul pelan kepala dengan kepalan tangan.

Lee Minah, namanya. Dan ia baru tersadar bahwa mimpi bisa saja menjadi nyata.

Jam dua siang dan otaknya mendadak jadi kacau sejak seorang melemparkan senyuman. Senyuman yang mengacaukan sistem kerja otak. Membuatnya menulis ‘shawol foundation’ dibanding ‘shallow foundation’. Memikirkan pengertian SM sebagai SM Entertainment ketika seharusnya ia memikirkan apakah itu seharusnya silty sands atau poorly graded sand-silt mixtures.

Dunia hiburan Korea dan pria-pria tampan itu sudah mengacaukan otak engineer-nya. Ia hanya bisa mengeluh dalam hati. Tidak ada yang tahu penderitaannya saat ini. Semua rekan kerjanya sibuk dengan pekerjaan dan deadline.

Oh my deadline!

Ia melihat angka 5 di kalender di beri lingkaran merah dengan tanda panah menuju kata ‘DEADLINE’. Huruf kapital menyala merah seakan memberinya peringatan.

Singkirkan Lee Jinki! teriaknya dalam hati.

Namun, bodohnya, di kalender juga terlihat lingkaran berwarna merah muda di angka 3. Cho Kyuhyun berulang tahun, tulisnya dengan tanda hati bertabur. Hal itu membuat Lee Jinki tersingkir tapi memunculkan senyum evil Cho Kyuhyun. Kurang dari dua puluh empat jam, salah satu orang yang menguasai mimpinya itu akan berusia dua puluh enam tahun.

Apa yang harus aku lakukan? Membuat fanart? Fanfiction?

Ia panik. Melebihi panik ketika melihat deadline laporan dan di tengah kepanikannya, ia teringat betapa miripnya suara pria yang menabraknya tadi pagi dengan suara pria bermarga Cho itu. Mungkinkah? Ia menaruh angka 50 untuk kemungkinan itu. Ia baru belajar di restoran ayam tadi bahwa mimpi bisa saja menjadi nyata. Masih dalam mode fangirl dan senyum yang mengembang di wajah, ia melamun hingga seseorang berdehem di depan mejanya.

“Oh.”

Ne, Oh?”

Ia memasang senyum termanis di wajah.

“Apakah kau sudah menghubungi Tuan Jung untuk koordinasi lapangan? Bagaimana hasil negosiasi untuk pekerjaan soil investigation di Jejudo? Apakah laporan untuk proyek pembangunan gedung di Daegu sudah selesai? Untuk proyek itu mungkin lebih baik menggunakan tiang bor. Kau bisa hitung ulang dan pada analisa jangan lupa disebutkan kemungkinan penurunan tanah. Oke?”

Ia hanya bisa mengangguk. Tidak adakah pertanyaan beruntun yang lebih panjang?

Ia menenggelamkan wajah di tangan yang terjulur di atas meja. Ia perlu sesuatu yang manis untuk mengurangi stres.

Bubble tea. Bubble tea. Bubble tea, gumamnya seperti mantra hingga jarum jam menunjukkan pukul empat sore. Hari ini ia pulang tepat waktu. Tidak ingin lembur karena hari ini adalah hari ulang tahunnya. Walaupun tidak ada yang spesial dengan orang yang spesial.

My poor single life, ulangnya.

Dia sangat menyukai tempat itu. Interiornya yang hangat membuat ia merasa sedang berada di rumah. Ada dua sisi dengan warna yang berbeda. Baby pink dan peach. Dan bubble tea yang sangat memanjakan tenggorokan membuat ia rela berjalan lebih jauh. Total berjalan kaki menjadi 15 menit menuju flat dan 10 menit menuju bubble tea shop.

“Taro and chocolate bubble tea.” Aksen Cina terdengar dalam kalimat yang diucapkan dalam bahasa Korea. Ia menoleh dan seorang pria dengan bannie abu-abu bermotif rusa sedang berdiri di sampingnya.

Ada apa denganku hari ini? Apakah aku terlalu berharap? Terlalu bermimpi? Terlalu?

Terlalu cute! Jawaban yang tidak jelas ketika pria itu menoleh ke arahnya dengan doe-eyes penuh tanya. Kemudian dikuti dengan segaris senyuman.

Oh God! Apakah deer of the dawn tersesat di bubble tea shop? Kalimat yang entah bermaksud apa itu muncul begitu saja di otaknya yang sudah kacau.

“Luhan-ssi?”

Ups, ia mengucapkan pertanyaan itu begitu saja tanpa berpikir. Pria itu mungkin akan menganggapnya aneh, tapi sungguh, demi unicorn, dragon and deer, pria itu sangat mirip dengan Luhan. Pria yang juga ia suka. Jadi ada berapa pria yang ia suka? Tiga. Cho Kyuhyun, Lee Jinki dan Luhan.

Ne?” pria itu setengah terkejut.

Are you Luhan?” ia tidak ingin lagi sebodoh saat berada di restoran ayam lagi.

“Untuk kamu,” pria yang ia yakin adalah Luhan itu tidak menjawab dan hanya menyodorkan chocolate bubble tea ke arahnya.

Wait! Ia tidak atau belum memesan apapun.

“Untuk kamu. Bukankah chocolate bubble tea kesukaanmu?”

Mulutnya sedikit membuka. Apakah ia terlalu keras membentur kepalanya tadi?

“Aku sering melihatmu, tapi sepertinya baru kali ini kamu menyadari keberadaanku. Kau selalu datang ke sini dan memesan chocolate bubble tea dengan wajah kusut.”

“Jadi kau?” ia tidak berani menyelesaikan pertanyaan.

Ne, I’m Luhan”

Really?”

Pria itu mengangguk, “Mau mengobrol sebentar? Bagaimana jika kita duduk di sana? Tidak ada pengunjung lain selain kita berdua saat ini. Bagaimana?”

Ia hanya bisa mengangguk dan mengekor di belakang. Luhan, ya pria itu benar Luhan, hanya tertawa pelan melihat sikapnya.

“Jadi?”

Ne?” ia tidak sadar suaranya dua oktaf lebih tinggi dari biasanya. “Sorry.”

Luhan hanya tertawa pelan, “Kau tahu tentangku? Tentang EXO?”

Ia mengangguk mantap, “Tentu saja. I love EXO and I’m Hunhan shipper, I—ups,” ia menutup mulut dengan telapak tangan.

Luhan tertawa lagi. Sungguh, suara tawa renyah itu membuatnya ingin terbang. Dengan jutaan kupu-kupu di perutnya, mungkin ia benar-benar akan bisa terbang.

“Apakah kau kecewa Sehun tidak bersamaku saat ini?”

“Ah, aniyo, aku lebih suka kamu,” ia sadar apa yang ia ucapkan dan wajahnya memerah.

Thanks,” Luhan menaruh telapak tangan di kepalanya dan mengusapnya dengan lembut. “You’re cute. Maaf aku harus pergi. Sepertinya sudah mulai banyak pengunjung. Senang bisa bertemu denganmu. See you around.”

Luhan berjalan menuju pintu keluar dan kemudian berhenti sambil memegang pegangan pintu, “Ah iya, siapa namamu?”

Ia terkejut, “Minah. Lee Minah.”

Lee Minah, namanya. Ia belajar bahwa mimpi itu adalah sebuah harapan dari dasar hatinya. Dan mungkin saja menjadi nyata.

Senyum lebar tidak mau meninggalkan wajahnya. Ia berguling ke kiri dan ke kanan sejak dua jam yang lalu dan masih belum bisa tertidur. Senyum manis Lee Jinki dan tawa renyah Luhan tidak mau pergi dan membuatnya masih terjaga. Lalu kemana nama Cho Kyuhyun? Ia tidak memikirkan pria itu sedikitpun.

“Aku perlu tidur!” teriaknya frustasi. Ia perlu tidur karena besok harus meeting untuk pekerjaan dengan salah satu perusahaan konstruksi yang cukup besar.

Ia menghitung dari satu hingga seratus dan hasilnya nihil. Tanpa berpikir panjang ia mengambil mantel sepanjang lutut dan keluar dari flat kecil. Sudah malam. Jam 11.30, malam gelap, dingin dan mungkin saja berbahaya. Akan tetapi ia perlu asupan udara segar. Jika udara dingin Seoul bisa dikategorikan hal itu.

Ada taman kecil tidak jauh dari flat-nya. Dengan bangku taman dan lampu klasik, cukup romantis. Ia duduk di bangku kayu itu sambil mengayun-ayunkan kaki dan dengan tangan di dalam saku mantel. Ia tenggelam dalam pikiran hingga tidak sadar seorang pria muda duduk di sampingnya. Ia menoleh dan terkejut.

Omo!”

Pria itu menoleh. Dengan wajah yang separuhnya tertutupi lilitan syal, ia masih bisa mengenali pria itu.

“Cho…”

“Kyuhyun.” Pria itu menyelesaikan kalimatnya dan tersenyum.

Ia memejamkan mata dan pria itu masih ada di sana ketika ia membuka mata. Ia mencubit pipinya. Terlalu banyak hal aneh yang ia alami hari ini dan kali ini ia tidak ingin berharap terlalu banyak.

“Aku mengganggumu?”

Ia menggeleng. Masih belum bisa berkata dengan jelas.

Ah, bukankah kau gadis yang pagi tadi di kafe yang tidak sengaja ku tabrak? Apa noda kopi di mantelmu bisa hilang? I’m so sorry.”

Ia masih diam.

“Kau tidak apa-apa?”

Ia kembali menggeleng.

“Hei!” Kyuhyun melambaikan tangan di depan wajah gadis dengan wajah yang mulai memerah. Kyuhyun meletakkan telapak tangan di kedua pipinya, “Halo?”

Ah, I’m so sorry.” Ia panik. Sentuhan kecil itu menyengatnya.

“Kau tahu namaku, tetapi aku tidak tahu namamu. Bukankah itu tidak adil?”

“Minah. Namaku Lee Minah.”

“Jadi kau penggemarku?”

Ne?”

“Terlihat dari ekspresi wajahmu.”

Ne?” apakah seorang Cho Kyuhyun penuh percaya diri seperti ini?

Khuhyun bergeser—memperdekat jarak mereka duduk dan menarik tangan Minah dari dalam mantel. Pria itu memperhatikan jari kelingking mereka berdua.

“Apakah kau melihatnya?”

Huh?” gadis itu, Minah, hanya bisa mengernyitkan dahi.

“Ada benar merah yang menyambung kedua jari kelingking kita,” ucap Kyuhyun dengan senyuman yang menurut Minah terlalu manis dan tidak sesuai dengan label ‘evilmaknae’.

Ne?”

Ha, mungkin ini alasan pertemuan kita tadi pagi dan malam ini.”

Ne?”

“Apa yang kau lakukan selarut ini?” Kyuhyun mengalihkan pembicaraan.

“Aku tidak bisa tidur. Tempat tinggalku tidak jauh dari sini dan aku perlu udara segar.”

“Udara segar?”

Ne, udara segar untuk menormalkan fungsi otakku. Terlalu banyak hal gila yang terjadi hari ini. Seperti bertemu dengan pria yang selalu aku harapkan dan muncul dalam mimpiku.” Ia tidak sadar sudah berbicara banyak.

“Apakah aku termasuk dalam hal gila itu?”

Ne?” Minah menoleh dan lagi-lagi menemukan Kyuhyun sedang tersenyum. Dan perlu dicatat ini benar-benar seorang Cho Kyuhyun.

“Berarti hari ini hari yang sangat spesial, iya kan?”

“Tentu saja. Hari pertama melihat dunia pasti hari yang spesial.” Ia menunduk dan ingat hari ini spesial tapi ada yang kurang. Mungkin karena tidak ada kehadiran orang yang spesial.

“Hari ini ulang tahunmu?”

Ia mengangguk malu.

“Sebentar.” Kyuhyun melihat jam di pergelangan tangan. “11.59. Masih tanggal 2.” Kyuhyun menatapnya hangat dan tiba-tiba memeluknya. “Happy birthday to you.”

Minah kehabisan nafas dalam pelukan itu. Samar terdengar suara jam berdentang dua belas kali dari sebuah toko kecil di dekat taman. Sudah tanggal 3. Ia tersenyum dalam pelukan dan bergumam pelan, “Happy birthday to you Kyuhyun Oppa.”

Happy birthday to us…”

Lee Minah, namanya. Ia pikir ia sudah gila karena berada dalam pelukan pria yang kemarin hanya ada dalam mimpinya. Tapi ia memang sudah gila sejak dulu. Sejak jatuh cinta pada pria yang masih memeluknya. Ya, dibanding dengan dua nama lain itu, nama Cho Kyuhyun jauh terpatri lebih dalam dan menempati ruang khusus berlabel ‘cinta’.

“Apakah kau menangis?”

“Tidak.”

“Menangislah karena aku akan selalu mengusap airmatamu.”

“Aku tidak menangis!”

“Apakah aku membuatmu menangis?”

“Aku tidak menangis!”

“Syukurlah. Aku tidak ingin menjadi alasan dibalik tangismu, kecuali itu tangis bahagia.”

“Ya! Cho Kyuhyun!”

Hei girl! I’m older than you, ain’t I?”

You’re ahjussi.”

So do you wanna be with this handsome Ahjussi?”

Minah ingin terbangun dari mimpi. Ini tidak mungkin nyata, bukan?

– 끝 –

NO PLAGIARIST AND SILENT READER!

violetkecil’s note: This is crazy. Vomit words. Nonstop typed in hours. My crazy dream and my crazy birthday wish. Maaf membingungkan dengan istilah geokteknik, that’s my life, hohohoho ada yang tertarik dengan karir di bidang Geoteknik? Ask me XD. Comments are love *hugs* and Big thanks buat editor SOFF Jihan Onnie yang bersedia mengedit ff paling aneh yg pernah saya tulis >_<

Iklan

9 pemikiran pada “A Dream is a Wish Your Heart Makes

  1. woahhh daebakkk ,,,
    kok bias kita sama sih kak ,,, -Jin Ki sama Kyuhyun dan pengecualian untuk Luhan #kkkk maaf-
    pertama pas jaman SMA aku gila banget sama Jin KI,,,
    setelah lulus SMA aku makin gila korea karena Kyuhyun,,,
    dan saat aku berpikir bahwa tak ada lagi idola lain karena aku punya Kyuhyun ,,, aku malah ketemu Kim Joon Myun,,,,
    oh mai gat ,,, tapi aku seneng ,,,

    aku suka tulisanmu kak ,,

  2. Kyaaaa!!!!
    Omegeh. . .
    Ikut seneng! ! !
    Bisa ketemu 3 cwo ganteng di hari ultah? Dan 3 cwo itu smua idola? ?
    Bikin ngiri. . PENGENNNN!!! Cho Kyuhyun!!! Lope u so much !!!

  3. Gapapa gapapa, klo aku bisa nulis sebagus dan sedetil ini, mungkin aku bakalan nulis tiap bangun tidur dan sepanjang istirahat sekolah, tapi sayang…
    Haha, baru mulai nulis pertama kali sbg author ff tahun 2011 dan hiatus setahun, jadi bahasanya beda lagi, kak #curcol
    Aku pernah mimpi aku dan anak2 EXO pada jadi tim SAR gitu, dan entah kenapa Luhan keseleo dan aku yg disuruh ngobatin bin ngurut kakinya (pdhl biasnya Tao -_-“) It’s even weirder than yours, right? Tim SAR…

    • ayo nulis tiap hari^^ Eon baru mulai nulis fanfiction sekitar pertengahan 2011 juga loh~

      omooo mimpi yang unik, Eon pernah mimpi lagi di pesawat sama Luhan, terus ada Sehun juga, tapi dia duduk di depan gitu… jadi Onnie ceritanya ngobrol akrab bgt ma Luhan dan Sehunnn cemburu, hohoho

      btw, thanks for reading and commenting^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s