Tuhan, Bolehkah Aku Bercerita? [1]

Rumah itu kosong. Lembab. Daun-daun kering menghiasi lantai kayu yang tidak lagi berwarna coklat. Daun-daun itu jatuh di sana terbawa angin yang bertiup melalui jendela tanpa kaca.

Aku melangkahkan kaki ragu. Rumah yang terlihat sangat rapuh tapi justru masih sangat kokoh. Pandanganku tertuju pada deretan buku yang tersusun rapi di sebuah lemari. Debu-debu telah menjadi sampul terluarnya. Jariku menyusuri setiap punggung buku—mencoba membaca judulnya. Satu kertas terjatuh dari celah di antara deretan buku.

Tuhan, boleh aku bercerita?

Orang bilang apa yang terucap adalah doa. Benarkah begitu?

Aku takut. Malam ini aku membuat ayah marah, hanya karena aku terlambat menyahut dan menghampiri ibu. Dan ibu juga marah.

“Kamu akan tenang kalau ibu sudah tiada.”

Ibu mengucapkan kalimat itu, dan aku, aku takut.

Tuhan, aku tidak ingin kehilangan apapun dan siapapun dalam hidupku. Aku hanya memiliki keluarga ini dan jika salah satu hilang aku pikir aku akan kehilangan semuanya. Tuhan, aku egois, kan? Ya, ayah selalu bilang aku egois, tidak pernah peduli pada keadaan Ibu.

Tuhan, hanya Engkau yang paling tahu bagaimana aku. Bagaimana setiap malamnya aku menumpahkan tangis yang selalu aku tahan di depan mereka. Mereka ingin aku kuat, dan itulah aku yang terlihat. Tapi, bolehkah sekali saja aku tidak harus menjadi kuat? Sepertinya jawabannya adalah tidak. Mungkin hanya jika tinggal aku sendiri.

Ah, hidup ini rumit dan aku harus menjalani ini. Dulu sekali, seseorang melihat telapak tanganku dan kemudian mengatakan sesuatu dengan tatapan miris.

“Hidupmu tidaklah mudah.”

Aku masih ingat itu. Aku mengacuhkannya. Siapa dia berani mengatakan tentang hidupku, bukankah aku yang menjalaninya.

Tapi, malam ini tiba-tiba saja aku teringat perkataan itu lagi. Benar. Ini tidak pernah menjadi mudah untukku.

Tuhan, aku tidak boleh menyerah bukan?

Aku tidak menemukan lembar selanjutnya. Ada satu kata yang menyentilku. Menyerah. God, aku hampir saja menyerah atas hidupku.

Setumpuk kertas yang tidak lagi berwarna putih di ujung ruangan menyita perhatianku.

Tuhan, maafkan aku. Aku selalu saja membuat ayah dan ibu marah. Mereka kecewa lagi padaku. Aku selalu salah. Tapi, apakah caraku menjalani hidup ini juga salah?

Tuhan…

“Anak baik mendengarkan nasehat ayahnya dengan lapang hati, menerima.” Tapi aku, wajahku akan dengan begitu saja menampakan raut tidak senang. Tuhan, aku salah lagi?

“Kapan kamu menjadi dewasa?”

Aku? Tuhan, apakah saat aku tidak sepenuhnya menjadi seperti yang ayah dan ibu harapkan, berarti aku belum dewasa?”

“Jika ayah dan ibu tiada, kamu akan tahu.”

Tuhan, itu tidak akan terjadi, kan? Ah, bodohnya aku. Semua orang pasti akan tiada. Lagi-lagi aku egois. Tuhan, apa yang akan aku ketahui jika itu terjadi?

Aku ingin menutup telinga saja.

“Tersenyumlah selalu di depan ibu. Jangan tampakkan wajah sedih. Jangan menekuk wajah.”

Tuhan, sampai batas mana aku bisa seperti itu?

Aku rasa aku gagal. Ayah baru saja memarahiku lagi.

Setiap orang punya lembaran kehidupan. Untukku, itu tidak pernah mudah. Aku tidak sendiri. Tapi, aku selalu sendiri. Aku hanya menumpahkan semuanya pda diriku sendiri. Dan, pada Tuhan.

Tuhan, aku masih boleh bercerita, kan?

Iklan

4 pemikiran pada “Tuhan, Bolehkah Aku Bercerita? [1]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s